Beranda - Berita Pilihan - Penalti Bermasalah, Krisna Adi Darma Dihukum Seumur Hidup
Krisna Adi Darma (foto IG)
Krisna Adi Darma (foto IG)

Penalti Bermasalah, Krisna Adi Darma Dihukum Seumur Hidup

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com – Upaya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk memberantas pengaturan skor  pertandingan atau match fixing tidak lagi sekedar gertak sambal. Apalagi, isu yang dulu dikenal dengan main sabun ini sudah seperti bau kentut yang telah menyebar kemana-mana.

Akibat dugaan main sabun  yang dilakukan Krisna Adi Darma bersama timnya akhirnya berbuah pahit. Karir sepakbolanya harus berakhir di usia puncak. Komite Disiplin (Komdis) PSSI memutuskan melarang pemain berusia 28 tahun ini beraktifitas dalam kegiatan sepakbola di lingkungan PSSI seumur hidup.

Keputusan itu, dikeluarkan Komite Disiplin PSSI terkait dugaan kasus Match Fixing dalam sidang yang berlangsung, Rabu, 19 Desember 2018.

Komdis menilai mantan penyerang PSIM Jokyakarta ini dengan sengaja tidak menciptakan gol saat eksekusi penalti dalam pertandingan terakhir menghadapi Aceh United di 8 Besar Liga 2. Pada akhirnya, posisi PS Mojokerto Putra (PSMP)  yang berpeluang ke semifinal digantikan Kalteng Putra.

Sebagaimana dilansir dari laman PSSI, laga Aceh United versus PS Mojokerto Putra yang berlangsung pada 19 November 2018 pemain PS Mojokerto Putra, Krisna Adi Darma diduga sengaja tidak mencetak gol pada tendangan penalti yang dieksekusinya.

Komdis telah memanggil Krisna sebanyak tiga kali, namun yang bersangkutan tidak hadir ataupun memberikan alasan. Dengan adanya keterangan pendukung yang didapat Komdis dan referensi kasus hukum sepak bola, maka Komdis menghukum sanksi seumur hidup.

Sementara timnya, Mojokerto Putra juga kena sanksi dilarang mengikuti kompetisi Liga Indonesia tahun 2019. Komdis mengaku memiliki bukti-bukti yang kuat dari sejumlah pelanggaran match fixing yang dilakukan PS Mojokerto Putra, termasuk Krisna Adi Darma.

“Karena itu merujuk kepada pasal 72 jo.pasal 141 Kode Disiplin PSSI, PS Mojokerto Putra dihukum larangan ikut serta dalam kompetisi PSSI tahun 2019 yang dilaksanakan PSSI dan Krisna Adi Darma dilarang beraktifitas dalam kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup,” kata Ketua Komite Disiplin PSSI Asep Edwin di Jakarta.

Asep menyebutkan, Komite Disiplin memiliki perangkat untuk memberikan peringkatan sekaligus mendapatkan analisa dan bukti terjadinya match fixing. Komite Disiplin juga telah memiliki pegangan yurisprudensi dari penyelesaian kasus match fixing yang telah diakui AFC maupun FIFA.

Untuk kasus PS Mojokerto Putra, Asep menyebut, match fixing dilakukan pada dua pertandingan PS Mojokerto Putra melawan Kalteng Putra pada tanggal 3 dan 9 November 2018. Selain itu, juga saat PS Mojokerto Putra melawan Gresik United, tanggal 29 September 2018. Laga lainnya, yakni saat PS Mojokerto Putra menghadapi Aceh United.

Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria mengungkapkan, sidang dan keputusan Komdis terkait kasus match fixing ini merupakan komitmen PSSI untuk menyelesaikan masalah ini. Apabila ditemukan indikasi dimana hukum sepakbola tidak lagi dapat menjangkau, maka PSSI akan berkoordinasi dengan Kepolisian RI.

“Kita juga tengah menyiapkan tim Ad Hoc sinergi integritas. Komite ini dibentuk untuk tugas khusus dan dalam periode yang khusus. Awal Januari 2019, PSSI akan merencanakan pertemuan dengan Kepolisian RI yang juga mengundang FIFA untuk membicarakan langkah strategis,” kata Tisha.

Tisha menegaskan, PSSI akan terus memerangi match fixing atau match manipulation. PSSI pun berharap semua pihak dapat bekerja sama untuk memberantas praktek-praktek semacam ini. (Salih)

Baca :

Terbukti Match Fixing, PS Mojokerto Putra Dilarang Ikut Kompetisi

Selain Nasib PSMP, Sidang Komdis PSSI Juga Beri Sanksi PS TIRA

Heboh Match Fixing, 76 Akun Sosial Harus Serahkan Bukti

Ribut Mafia, PSSI Bentuk Komite Ad Hoc

 

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Peserta pawai Aegoris unjuk kebolehan

Pawai Alegoris HUT ke-74 Kemerdekaan RI Hadirkan Decak Kagum

SPIRITSUMBAR.com, Padang –  Ribuan masyarakat memadati sepanjang jalan Sudirman untuk menyaksikan pawai alegoris. Pawai alegoris ...