Beranda - Pendidikan - Artikel - Pedagang Aji Mumpung
Saribulih
Saribulih

Pedagang Aji Mumpung

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Saribulih

Banyak literatur menjelaskan jiwa dagang orang Padang (sebutan masyarakat Minangkabau di perantauan) tak jauh berbeda dengan orang China. Malahan, kedua etnis ini juga identik dengan jiwa merantau.

Walau begitu, keduanya juga  memiliki perbedaan yang mendasar. Kalau orang Padang merantau, selalu peduli dengan kampung halaman. Bak kata pepatah, sejauh terbang bangau, hinggapnya ke kubangan juga. Sementara, etnis China justru sebaliknya, yang dikenal dengan istilah merantau China. Mereka kalau merantau jarang pulang ke negerinya. Malahan, bisa-bisa menguasai daerah baru yang ditempatinya.

Perbedaan berikutnya, etnis China dalam berdagang sangat peduli dengan prinsip pemasaran. Mereka, kalau berdagang sangat mempedulikan pelanggan. Pembeli adalah raja, begitu kentara bagi mereka. Begitu, seseorang menjadi pembeli, maka secara otomatis menjadi pelanggan yang tak akan berpindah ke lain hati.

Berbeda dengan pedagang Padang yang lebih menonjolkan prinsip dagang. Bagi mereka,hari ini harus mendapatkan untung besar dan tak peduli untuk hari esok. Biar pembeli hanya satu atau dua orang, yang dari mereka dapat untung besar.

Malahan prinsip yang dikenal dengan Aji Mumpung lebih kentara, di saat pengunjung lagi ramai. Begitu, pembeli ramai harga langsung meroket naik.

Kondisi ini, pernah saya rasakan sendiri, pada salah satu rumah makan menjelang kawasan Mandeh Pesisir Selatan. Rumah makan yang terkenal dengan harga Rp10 ribu ini mulai menjadi incaran para pembeli. Walau, harga Rp10 ribu itu hanya pada sambal tertentu, saya ingin mencoba sambal yang lain. Karena menurut kawan yang merekomendasikan juga relatif murah atau hanya Rp15 ribu.

Tragisnya, usai makan saya cukup terkejut juga, lantaran pedagang tersebut justru menetapkan harga Rp18 ribu.

Ternyata, nasib sama, juga dialami oleh salah seorang teman. Menurutnya, saat ditanya, hanya seharga Rp15 ribu. “Ternyata saat membayar justru di pakuak dengan harga Rp17 ribu,” ujarnya.

Bisa jadi, pedagang tersebut menganggap sebagai Aji Mumpung. Lantaran, yang makan tersebut berjumlah 5 orang. Lumayan kan, ada peningkatan Rp3 ribu per orang atau Rp15 ribu untuk keseluruhan. Apalagi, kalau jumlah orang yang akan makan satu bus, suatu tambahan penghasilan yang luar biasa.

Tapi dia lupa, hal itu akan menjadi imej negatif yang berkembang dari mulut ke mulut. Pada akhirnya, satu persatu akan enggan untuk menikmati hidangan ala kadarnya. Hal yang lebih parah lagi, akan memberikan kesan negatif, pada rumah makan lainnya, yang ada di sekitar lokasi tersebut. Bahkan, Pesisir Selatan, secara keseluruhan.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Sidak Pemko Padang di hari pertama kerja

Hari Pertama Kerja, Pemko Padang Gelar Sidak

Spirit Sumbar – Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Syaiful Bahri memimpin inspeksi mendadak (sidak) kehadiran ...

Pilkada Padang 2018
close
Pilkada Padang 2018
close