Beranda - Pendidikan - Artikel - Paradigma Baru Penilaian Oleh Pendidik
Sukirman
Sukirman

Paradigma Baru Penilaian Oleh Pendidik

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Sukirman (Widyaiswara LPMP Sumatera Barat)

Salah satu aspek yang banyak dikeluhkan oleh para guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 adalah penilaian. Hal ini terjadi karena tidak optimalnya pemahaman guru tersebut terhadap konsep penilaian itu sendiri. Selama ini penilaian lebih dipahami sebagai suatu proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik (Panduan Penilaian Oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas, 2017).

Hasil penilaian yang dilakukan lebih berfokus kepada produk yang bersifat angka-angka.
Jika peserta didik mendapat nilai (angka) yang tinggi diasumsikan bahwa peserta didik tersebut sudah kompeten, atau dengan kata lain peserta didik tersebut memiliki pencapaian yang tinggi. Dalam hal ini fokus guru hanya kepada bagaimana peserta didik mendapat nilai yang tinggi, dan penilaian proses agak termarginalkan.

Proses yang baik niscaya akan memberikan hasil yang baik pula.Karena sudah terfokus kepada bagaimana mendapat nilai yang tinggi, proses pembelajaran adakalanya juga diwarnai oleh kegiatan latihan membahas soal-soal. Menjelang dilaksanakannya ujian nasional, sekolah-sekolah pada umumnya menerapkan belajar tambahan yang kegiatannya mayoritas diisi oleh latihan membahas soal-soal ketimbang mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi peserta didik untuk memecahkan masalah. Untuk itu guru perlu memperbaharui (revision) pemahamannya terhadap konsep penilaian itu sendiri.

Pada dasarnya penilaian tidak hanya terkait pengumpulan data, tetapi lebih kepada sesuatu yang kita lakukan dengan dan untuk peserta didik (Green, 1998). Peserta didik perlu dipandu, diarahkan, dan dibantu selama proses belajar mengajar. Tidaklah adil jika kita hanya mengukur pencapaian peserta didik tanpa ‘memberi makan’ dan ‘menyirami’ perkembangan mereka selama proses pembelajaran.
Menilai berasal dari bahasa Latin ‘assidere’ yang berarti duduk dengan. Di dalam penilaian, seseorang (guru) diibaratkan duduk dengan peserta didik. Ini mengimplikasikan sesuatu yang kita lakukan dengan dan untuk peserta didik, bukan terhadap peserta didik (Green, 1998).

Panduan Penilaian untuk SMA yang dirilis Juni 2017 menjelaskan secara eksplisit bahwa ada tiga cara memandang penilaian itu sendiri. Ketiga cara pandang itu adalah pertama, penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning), kedua penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning), dan ketiga penilaian atas pembelajaran (assessment of learning)
Penilaian untuk pembelajaran lazim juga disebut penilaian formatif. Data (informasi) hasil penilaian ini digunakan untuk memantau progress (kemajuan) belajar peserta didik, melihat sejauh mana mereka telah menguasai apa yang seharusnya mereka pelajari, lalu menggunakan informasi ini untuk memodifikasi rencana pembelajaran berikutnya. Informasi ini juga menjadi umpan balik (feedback) bagi peserta didik. Contoh kegiatan dalam penilaian jenis ini adalah tes informal, kuis, dan observasi sederhana terhadap tugas-tugas yang dilakukan peserta didik, serta mengkaji artefak atau portofolio yang dihasilkan peserta didik.

Selanjutnya penilaian sebagai pembelajaran pada prinsipnya adalah assessment for learning juga karena dilaksanakan selama pembelajaran. Assessment as learning lebih terfokus pada pelibatan peserta didik dalam penilaian. Peserta didik didorong untuk memonitor kemajuan belajar diri mereka sendiri, lalu menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan kemampuan dan kecepatan belajar mereka. Peserta didik juga dapat dilibatkan dalam merumuskan prosedur, kriteria, maupun rubrik/pedoman penilaian sehingga mereka mengetahui dengan pasti apa yang harus dilakukan agar memperoleh capaian belajar yang maksimal.

Penilaian atas pembelajaran (assessment of learning) adalah penilaian yang dilakukan pada akhir termen (catur wulan, semester, tahun) untuk mengukur apa yang telah dicapai baik oleh kelompok maupun individu. Tujuan dari assessment of learning ini adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan atau profisiensi yang telah diperoleh pada akhir termen dan membandingkannya dengan kriteria/ acuan/ benchmark/ Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan.

Jika kita mengibaratkan peserta didik sebagai tanaman, proses assessment of learning-nya adalah mengukur pertumbuhan tanaman tersebut setiap hari. Sementara itu assessment for learning-nya adalah memberi pupuk dan menyirami tanaman tersebut agar tumbuh lebih baik.

Berikut ini adalah perbandingan antara assessment for learning dan assessment of learning.

perbandingan antara assessment for learning dan assessment of learning
perbandingan antara assessment for learning dan assessment of learning

Aspek lain yang harus juga mesti dipahami secara optimal oleh para guru dalam melaksanakan penilaian adalah pengembangan kemampuan berfikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills) peserta didik. Lulusan dari suatu satuan pendidikan dituntut untuk memiliki kemampuan berfikir tingkat tinggi, sehingga mereka diharapkan memiliki daya saing yang tinggi, mampu memecahkan masalah-masalah yang tidak biasa yang menuntut nalar mereka. Tantangan internal maupun eksternal sudah semakin kompleks yang mau tidak mau keluaran pendidikan kita dituntut harus mampu menyelesaikan tantangan-tantangan tersebut secara optimal.

Kemampuan berfikir tingkat tinggi meliputi kemampuan berfikir kritis, logis, reflektif, metakognitif dan kreatif. Kemampuan ini tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Adapun ciri-ciri dari kemampuan berfikir tinggi ini adalah adanya kegiatan-kegiatan menemukan, menganalisis, menciptakan metode baru, merefleksi, memprediksi, berargumen, dan mengambil keputusan yang tepat. Soal-soal HOTS mesti berbasis masalah kontekstual, dan stimulusnya harus menarik. Soal-soal yang sulit belum tentu HOTS, kecuali melibatkan proses bernalar. Mencari arti dari kata yang jarang digunakan mungkin sulit, tapi itu belum tentu HOTS, kalau tidak melibatkan proses bernalar.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Selebrasi pemain Timnas Indonesia usai menciptkan gol ke gawang Vanuatu (foto pssi)

Sarangkan 6 Gol, Timnas Indonesia Begitu Perkasa Bagi Vanuatu

SPIRITSUMBAR.com – Timnas Indonesia senior sukses mencukur Vanuatu dengan 6 gol tanpa balas pada laga ...