Beranda - Pendidikan - Artikel - Mengembalikan Jati Diri Guru
Saribulih
Saribulih

Mengembalikan Jati Diri Guru

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Saribulih

Profesi guru seakan telah terdegradasi sampai pada titik nadir. Hal ini, terlihat dengan bersilewerannya berbagai berita miris tentang guru. Malahan, menjadi hiasan di berbagai media saat ini, baik dalam bentuk tulisan ataupun visual.

Berbagai serangan menghantui para guru, baik dalam bentuk tekanan mental dan kadangkala berubah menjadi pukulan fisik. Insan yang semestinya, merubah karakter sang buah hatinya ini justru dipermalukan di depan anaknya sendiri.

Lebih dari itu, tak sedikit pula guru yang dilaporkan ke aparat kepolisian. Guru dituduh melakukan tindakan penganiayaan atau tuduhan lain. Kalau toh ada kesepakatan damai, sang guru tetap berada pada posisi lemah. Mereka harus membayar kompensansi, atas perbuatan yang telah dituduhkan. Baik dalam bentuk denda atau tetek bengek lainnya.

Pada akhirnya, harga diri guru di obrak abrik, malahan sudah mencapai pada titik nadir. Karena,  secara otomatis, hal ini  juga menghilangkan rasa segan sang anak pada pendidiknya. Guru tak  berkutik, bahkan dari kasus tersebut guru malahan mengarah pada olok olok. Para orang tua yang pada umumnya tidak mengerti dengan peran guru tersebut, akan menjadikan kasus demi kasus, seakan menjadikan yurisprudensi untuk tindakan berikutnya.

Alhasil, rententan panjang terhadap tindakan orang tua, juga menjalar pada para anak didik. Tak sedikit, para peserta didik yang mengancam para guru. Mereka tidak lagi menghargai guru, sebagai orang tua di sekolah. Malahan, ada kasus tersebut yang berujung pada pemukulan pada guru. Seperti kasus tewasnya Bapak Budi  beberapa waktu lalu.

Belajar dari kasus demi kasus, sudah saatnya para guru untuk mengambil langkah taktis. Sudah saatnya, para guru bangkit dan tidak terjebak dengan arus yang terus terjadi. Salah satu langkah yang harus dilakukan, guru harus memahami aturan main hukum. Seperti, memberi sanksi pada peserta didik, berilah hal yang mendidik, bukan malah untuk pelapiasan sakit hati.

Tak bisa dipungkiri, masih ada guru yang memberikan sanksi yang tidak mendidik. Seperti, hormat pada bendera dalam panas terik, berdiri dengan satu kaki dan lain sebagainya.

Seorang guru juga harus siap berhadapan dengan hukum jika ada aduan para orang tua pada aparat kepolisian. Sekali lagi, pahami aturan main hukum dan berbagai aturan dalam dunia pendidikan. Dan yang terpenting , koorperatif dengan aparat penegak hukum. Karena, bekerjasama dengan aparat hukum akan mampu mengangkat harkat dan martabat guru.

Dengan cara ini, akan mampu menaikan nilai tawar guru. Jadi, jangan asal bayar sesuai dengan keinginan si pengadu. Karena, tidak bisa dipungkiri, para pelaku yang menggerogoti guru dan pendidikan tersebut, orangnya  itu ke itu saja. Atau para pihak yang melakukan komunikasi dengan mereka. Tidak bisa dipungkiri, dengan cara ini para guru akan kembali dihargai.

Yang tak kalah penting, adalah seorang guru harus banyak membaca. Guru cerdas akan lahir dari banyak membaca baik materi pembelajaran, sosial kemasyarakatan dan berbagai regulasi yang ada. Membaca materi pembelajaran, suatu hal yang sangat penting untuk mengikuti perkembangan dan ilmu kekinian.

Membaca hal yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan untuk mengenali kondisi terkini, untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran dan pemecahan persoalan. Sementara, regulasi untuk mengetahui berbagai aturan, terutama yang berhubungan dengan proses pendidikan dan hal lain.

Guru merupakan pekerjaan yang butuh keahlian dalam proses pembelajaran, menguasai kelas  dan memberikan inspiratif.  Untuk itu seorang guru harus terus membaca dan berlatih hingga mahir ketika berada di kelas. Guru tidak sekedar dituntut memiliki kemampuan mentransformasikan pengetahuan dan pengalamannya, memberikan tauladan, tetapi juga diharapkan mampu menginspirasi anak didiknya agar mereka dapat mengembangkan potensi diri dan memiliki akhlak yang baik.

Akan lebih baik lagi, ilmu dari bacaan dan pengalaman diimplementasikan dalam bentuk tulisan. Kalau boleh jujur, kecerdasan guru jaman old  atau dahulu tidak terlepas dari hasil karyanya dalam bentuk tulisan.  Semakin banyak tulisan para guru, juga akan makin memperbanyak referensi dunia pendidikan.

Andaikan satu guru, membuat 3 tulisan saja untuk naik pangkat, sudah begitu banyak referensi baru yang muncul ke  permukaan. Namun sayangnya, hal ini yang sulit ditemui pada guru jaman sekarang. Malahan, ada guru untuk melengkapi bahan naik pangkat justru memanfaatkan jasa pihak lain. Bahkan, mereka lebih rela membayar jutaan rupiah ketimbang memunculkan ide dari hasil karya sendiri.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Rekonstruksi pembunuhan suami di Dharmasraya

Polres Dharmasraya Gelar Rekonstruksi Pembunuhan Suami

SPIRITSUMBAR.com, Dharmasraya – Rekontruksi pembunuhaan suami oleh istrinya digelar, Kamis (3/10/2019). Pihak Polres Dharmasraya dan ...