Selasa , 18 Desember 2018
Beranda - Headline - Mencengangkan, Mempelai dan Tamu Gunakan Pakaian Unik

Mencengangkan, Mempelai dan Tamu Gunakan Pakaian Unik

Print Friendly, PDF & Email

Spiritsumbar.com, Rembang – Pernikahan Sholikin dan Amay Liya Efikusuma unik. Jika pengantin pada umumnya memakai baju adat daerah dan pakaian mewah lainnya, beda dengan pernikahan warga Kabupaten Rembang ini.

Mulai dari akad nikah hingga resepsi, mereka memakai seragam Pramuka.

Pernikahan pasangan ini dilangsungkan di rumah pengantin perempuan, Desa Pakis, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pada Minggu, 8 Juli 2018.

Uniknya lagi, bukan hanya pasangan pengantin, para tamu undangan juga memakai seragam Pramuka.

“Pernikahannya di rumah saya, Desa Pakis, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang dengan konsep saling mengenakan seragam Pramuka. Akad sampai prosesi pernikahan kita mengenakan seragam Pramuka, dan pada saat acara tersebut tamu undangan juga mengenakan seragam Pramuka,” ujar Amay Liya Efikusuma saat dihubungi, Jumat (20/7/2018).

Setelah akad selesai, pengantin pria menuju pelaminan. Ia disambut sekelompok Pramuka yang memegang tongkat. Mereka menggerakkan tongkat itu ke atas saat pengantin laki-laki melewatinya. Hal yang sama juga mereka lakukan kepada para tamu undangan.

Selanjutnya, pengantin laki-laki ini bertemu dengan pengantin perempuan beserta keluarganya masing-masing, sambil menyerahkan beberapa barang-barang. Lalu, pengantin laki-laki menginjak telur hingga pecah tanpa menggunakan alas kaki. Setelah itu, pengantin perempuan membasuh dan membersihkan kaki suaminya dari sisa-sisa pecahan telur.


“Kita juga menggunakan prosesi panggih. Ini adalah budaya tradisional yang dilakukan setelah akad nikah, yang biasanya digunakan dalam pernikahan dengan adat Jawa. Maknanya, agar pasangan bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan bahagia, disertai restu kedua orang tua,” ungkap Amay.

Banyak tamu undangan hadir dalam prosesi sekali seumur hidup tersebut. Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Rembang, Bayu Andriyanto juga tampak hadir. Bahkan, ia memberikan uang senilai Rp3 juta kepada pasangan pengantin ini sebagai tanda kasih.

Amay mengungkapkan alasan mereka menikah dengan memakai seragam Pramuka. Menurutnya, hal itu mereka lakukan karena keduanya sama-sama menyukai Gerakan Pramuka. Bahkan, keduanya adalah sama-sama Pembina Pramuka di Kabupaten Rembang.

“Kata Ketua Kwarnas Kak Adhyaksa Dault, menantu idaman adalah Pramuka. Saya sangat setuju dengan hal itu, karena Pramuka mengajarkan kita bagaimana bersikap, berbuat dan bertahan dengan hal-hal yang baik,” bebernya.

Amay juga mengungkapkan, konsep pernikahan dengan memakai seragam Pramuka tersebut mendapat restu dari kedua orang tuanya. Bahkan, tegas dia, mereka mendukung karena orang tua juga sama-sama menyukai Pramuka.

“Respons orang tua mendukung karena orang tua juga sama-sama menyukai Pramuka, dan masyarakat merasa bahwa hal ini merupakan hal yang belum pernah ada dan mereka lihat, maka tidak heran jika pada saat acara tersebut banyak sekali yang ingin melihat,” kata Pembina Pramuka di SD, Kabupaten Rembang ini.

Terhadap pernikahan ala Pramuka tersebut, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault mengapresiasi dan mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin ini, Sholikin dan Amay Liya Efikusuma. Ia juga mendoakan agar keduanya diberkati oleh Allah swt. dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

“Ini bukti bahwa menantu idaman adalah Pramuka. Mari kita sama-sama mendoakan keduanya. Hormat saya kepada kedua orang tuanya, dan para Pembina Pramukanya,” kata pria berkumis yang hobi mendaki gunung ini.

“Jadi, jika nanti ada orang tua yang mencari pasangan untuk anaknya, tanya dulu, dia Pramuka atau bukan. Kalau Pramuka, kalian sudah separo diterima. Saya yakin semua orang tua ingin mendapatkan menantu terbaik. Saya merasakan itu karena saya juga punya anak,” pungkas Ketua Umum DPP KNPI Periode 1999-2002 ini.



loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Dua dari 5 pelaku judi yang diamankan Satreskrim Polres Lampung Utara

Aduh, Pria Sudah Bau Tanah Kena Grebek Sedang Berjudi

SPIRITSUMBAR.com – Satuan Reserse  Kriminal (Satreskrim) dan Polsek Kotabumi Utara Polres Lampung Utara, grebek rumah ...