Beranda - Pendidikan - Artikel - Ketika Moral Sudah di Ujung Tanduk
Riyon
Riyon

Ketika Moral Sudah di Ujung Tanduk

Print Friendly, PDF & Email

Oleh. Riyon

Sebagai warga negara Republik Indonesia dalam kondisi dan situasi sekarang ini, sangatlah sedih dan penuh keprihatinan, namun bisanya hanya mengelus dada. Pasalnya akhir-akhir ini tindak kejahatan semakin sadis dan bengis, sehingga arti dari Sila kedua Pancasila yang berbunyi :”Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” sudah luntur berubah menjadi Tak Berprikemanusiaan Tak Adil dan Biadab ”

Semua itu memang dari kejadian-kejadian tindak kejahatan yang sudah diambang batas prikemanusiaan dari para pelaku tiundak kejahatan. Dalam 3 hari pada bulan puasa kini. Ambil contoh, kejadian di SPBU Da’an Mogot  Cengkareng Davidson Tantono usai mengambil uang di salah satu bank untuk membayar THR karyawannya.

Saat Davidson sedang menambal ban mobilnya, disatroni 2 perampok memakan sepeda motor. Lalu tak berapa lama, antara pelaku dengan Davidson saling tarik-menarik tas yang berisikan uang Rp300 juta. Dalam beberapa saat Davidson tersungkur terkena timah panah oleh pelaku perampokan tepat di bagian kepalanya.

Akibatnya uang Rp300 juta raib dibawa kabur para rampok tersebut. Sementara Davidson meninggal di Tempat Kejadian Peristiwa (TKP). Para perampokpun ngacir membawa uang rampokannya.

Lalu selang 2 hari setelah kejadian di SPBU Daan Mogot, terjadi Tanggerang kejadian  pelaku curanmor di rumah Italya Candra Kirana Putri (23)  mahasiswa Kedokteran Gigi Trisakti. Ketika mengetahui motor di halaman rumahnya mau satroni maling, sambil berteriak maling-maling melemparkan sapu, lalu balik masuk dalam rumah mengambil sapu untuk dilemparkan kepada pelaku curanmor.Dalam sekejap sebuah timah panas bersarang di dada membuat Italya tersungkur akhirnya meninggal dunia.

Ini baru dari tindak kejahatan baik dari perampokan  dan curas. Belum lagi tindak kejahatan yang lain setiap hari tertayang di TV entah sindikat, entah bandar, entah pengedar narkoba baik laki-laki dan perempuan tertangkap oleh aparat BNN. Tindak kejahatan yang satu ini 50 persen ditengarai dari dalam lapas.

Meskipun bila sindikat/kartel narkoba tertangkap dijerat dengan hukuman mati tampaknya tak perduli dan tak ambil pusing dengan ancaman pidana hukuman mati tersebut. Memang mencari uang dengan jalan pintas selain korupsi dan pencucian uang sangat mengiurkan.Dari peredaran narkoba inilah sangat menjanjikan perolehan uangnya.

Inilah suatu protret buram degradasi moral, menjelang hari raya Idhul Fitri 1348 H/2017. Lain lagi kejadian di luar Prov DKI. Kita kembali ke Sumatera Barat, masih menyangkut masalah degradasi moral  yang sudah di ujung tanduk. Seperti terjadinya kasus-kasus perkosaan. terhadap anak di bawah umur. Seperti yang diungkapkan Kapolres Sijunjung AKBP Imran Amir, S.Ik, MH, beliau baru menjabat sekitar 1 bulan sebagai Kapolres Sijunjung sudah terjadi kasus pemerkosaan anak sebanyak 3 kasus di Kab Sijunjung.

Belum lagi kejadian hal yang sama di daerah lain, miris kalau kita mendengarkannya. Nyata sekali sudah terjadinya degradasi moral di era sekarang. Rapuhnya moral selalu diwarnai tindak kejahatan yang selalu menggerogoti dan bergentayangan di tengah kehidupan masyarakat. Bukan hanya di kawasan perkotaan saja tetapi malah seperti bola bilyard sudah  menyodok sampai di pelosok pedesaan/jorong kalau di Sumatera Barat.

Dengan banyaknya kasus tindak kejahatan dengan kekerasan yang sudah multi dimensi, bukan hanya tugas aparat kepolisian saja  dan beban pemerintah saja. Tetapi tugas kita sebagai warga masyarakat, mengupayakan penguatan tentang moral kepada regenerasi muda. Disamping mawas diri di sekitar lingkungan kita dan didalam keluarga kita.

Didiklah anak-anak kita dipertebal kekuatan moralnya dengan ajaran agama yang didalamnya ada itu pembelajaran akhlaq. Jadikanlah akhlaq sebagai benteng utama dari segala hal niat tindak kejahatan. Akhlaq anak-anak kita harus dibentengi dengan iman dan taqwa apapun agamanya.

Kalau kita beragama Islam jalankan ajaran Allah dan sunah nabi junjungan kita Muhammad Rasulullah. Seseorang tanpa ada pengetahuan agama, jiwanya akan kosong, mudah sekali terbawa arus ajakan syetan untuk berbuat melakukan tindakj kejahatan. Marilah kita sebagai umat yang beragama jangan sampai kegersangan moral tumbuh didalam jiwa kita termasik digenerasi penerus, anak cucu kemenakan kita.

Editor : Saribulih

Artikel lainnya:

loading…


Baca juga:

loading…


loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Guru Pessel Ikuti Seleksi Subtansi Calon Kepala Sekolah

SPIRITSUMBAR.com – Dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Selatan ...