Beranda - Headline - Ketika Jawa-Minang Berakulturasi Dalam Grebeg Suro
Wako dan Wawako Sawahlunto dalam Grebeg Suro - Erni/Spirit Sumbar
Wako dan Wawako Sawahlunto dalam Grebeg Suro - Erni/Spirit Sumbar

Ketika Jawa-Minang Berakulturasi Dalam Grebeg Suro

Print Friendly, PDF & Email

Spirit Sumbar – Siapa bilang ritual adat Grebeg Suro hanya bisa disaksikan di keratonan Jawa saja. Karena ternyata prosesi adat ini juga diselenggarakan oleh masyarakat Sawahlunto Sumatera Barat yang dikenal sebagai buminya ‘Orang Rante’.

Meski diadaptasi dari adat Jawa, tapi uniknya prosesi Grebeg Suro di Sawahlunto yang berlangsung tepat pada 1 Muharram 1437 H atau 14 Oktober 2015 itu telah mengalami akulturasi budaya atau berbaur dengan tradisi lokal minangkabau.

Gesah budaya Jawa begitu kental terasa ketika Walikota dan Wakil Walikota Sawahlunto Ali Yusuf-Ismed memimpin barisan kirab Seribu Apem dengan berpakaian ala kesultanan Jawa sembari menunggang kuda.

Dua Gunungan yang terdiri dari gunungan seribu apem serta gunungan buah ditandu oleh beberapa pemuda dan diarak oleh tokoh adat. Kirab atau arak-arakan dimulai dari depan Mesjid Agung Nurul Islam dan berakhir di Museum Gudang Ransum.

Sangat berbeda dengan di daerah asalnya, setiba di lokasi Museum Gudang Ransum, rombongan kirab disambut dengan tari gelombang khas Minangkabau yang ditampilkan oleh sanggar tari yang ada di kawasan Tangsi Baru.

Tepat usai pidato seremonial, Walikota memukul bedug sebagai tanda puncak prosesi. Dan masyarakatpun menyerbu gunungan apem dan gunungan buah sebagai tanda berbagi reski dan berbagi kebahagiaan.

Iwan Darmawan Ketua Paguyuban Sapu Jagad penyelenggara prosesi tersebut mengungkapkan, seperti lazimnya kegiatan grebek suro yang diadakan di tanah Jawa, kami juga melakukan ritual memandikan benda-benda pusaka berbagai jenis untuk mengawali kegiatan.

Prosesi mandi pusaka tersebut dilaksanakan pada Selasa Malam (13/10) dengan jumlah pusaka mencapai seratus lebih yang antara lain seperti keris, gamelan tua, guci tua dan lain sebagainya yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun.

Sementara untuk pembuatan gunungan apem, juga melalui prosesi ritual yang tidak sembarangan. Tiang utama penyangga tandu gunungan dibuat dari bambu khusus yaitu yang hanya tumbuh tujuh batang dalam satu rumpun.

Penebangan bamboo diawali dengan ritual doa dan zikir, begitu pula dengan proses pembuatan apem. Beras untuk membuat apem direndam dalam air tujuh sumur yang sudah dibacakan zikir dan doa kepada Yang Maha Kuasa.

“Prosesi ini tidak sekedar untuk melestarikan adat dan menambah khasanah budaya dan pariwisata Sawahlunto, namun lebih dari itu prosesi ini adalah cara kita mengungkapkan syukur nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Intinya doa syukur dan berbagi kepada sesama” tutur Iwan menjelaskan.

Ia berharap, dengan prosesi Grebeg Suro ini akan semakin menumbuhkan semangat masyarakat untuk menyintai budaya nusantara dan menjadi momentum yang baik dalam mengembangkan kota itu sebagai salah satu daerah tujuan wisata dalam konsep visi kota wisata tambang yang berbudaya.
ERNI

Ini Link Tari Piring di atas kaca yang merupakan kreasi seni budaya bangsa

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pemain Timnas U-16, Sutan Diego Armando Ondriano Zico. (foto pssi)

Sutan Zico Bakal Hadir di Opening Ceremony Minangkabau Cup 2018

SPIRITSUMBAR.com – Opening Ceremony Minangkabau Cup II tahun 2018 bakal tampil dalam suasana heboh dan ...