Beranda - Pendidikan - Artikel - KEK Mentawai, Antara Untung dan Buntung

KEK Mentawai, Antara Untung dan Buntung

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Cornelius Sabalaitty, Pengurus Badan Musyawarah Masyarakat Mentawai (BM3)

Masyarakat Mentawai tidak butuh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menurut rencananya akan dibangun di daerah Pei-Pei Kecamatan Siberut Barat Daya seluas 2600 hektar dengan biaya Rp11 trilyun.

Sebenarnya masyarakat Mentawai tidak menolak pembangunan yang ada, tapi jangan terlalu tinggi levelnya.

Saatini yang dibutuhkan itu pembangunan yang membumi tidak mengawang yakni berupa perkebunan dan pariwisata yang berbasis kearifan lokal.



Dari awal kita melihat Pemkab Kepulauan Mentawai tidak transparan, dan sesungguhnya secara konsep pun pembangunannya sudah tidak betul. KEK itu bukan kebutuhan masyarakat tapi kebutuhan pejabat Mentawai, dan pembangunan super mewah itu bukan kelas masyarakat, tapi kelas elit-elit di Pemkab Kepulauan Mentawai. Mereka itu bukan membangun Mentawai tapi “membangun di Mentawai”.

Pembangunan Mentawai itu harus berbasis kearifan lokal, karena bagi orang Mentawai tanah adalah bagian dari hidup mereka sepanjang zaman sampai dunia ini kiamat. Mentawai jangan sampai kehilangan identitas maupun harkat dan martabatnya akibat ambisi dan nafsu elit di Pemkab Kepulauan Mentawai yang tidak lagi rasional. Kalau menjual kemewahan seperti konsep pariwisata di KEK itu, lebih indah Dubai dan Singapura lagi.

Kearifan lokal itu maksudnya bagaimana pembangunan pariwisata itu yang dijual kekhasan budaya Mentawai, dengan membangun Mentawai Villagge, kampung – kampung tradisional Mentawai dengan segala pernak – perniknya yang unik. Kemudian pengembangan perkebunan yang selama ini telah menjadi bagian dari masyarakat Mentawai, seperti perkebunan kelapa. Dari kelapa itu banyak yang bisa diolah, misalnya daging buahnya yang menjadi kopra, tempurung sebagai bahan bakar, sabut bahan jok mobil dan batangnya untuk furnitur.

Begitu juga dengan perkebunan lainnya seperti sagu, pisang, cengkeh, pinang dan nilam. Semua tadi merupakan komoditi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mentawai dari dulunya. Pabrik-pabrik yang bisa mengolah hasil perkebunan tadi lah yang seharusnya di bangun di KEK tersebut. Apakah itu pabrik minyak kelapa, tepung sagu, olahan pisang, minyak nilam dan lain sebagainya. Pemkab Kepulauan Mentawai jangan seperti orang kehilangan akal, sebab sejatinya pembangunan berbasiskan kearifan lokal yang diharapkan masyarakat Mentawai.



loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pemain Timnas U-16, Sutan Diego Armando Ondriano Zico. (foto pssi)

Sutan Zico Bakal Hadir di Opening Ceremony Minangkabau Cup 2018

SPIRITSUMBAR.com – Opening Ceremony Minangkabau Cup II tahun 2018 bakal tampil dalam suasana heboh dan ...