Beranda - Pendidikan - Artikel - Karakter Dalam HOTS Matematika

Karakter Dalam HOTS Matematika

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Ike Fitri Wardani  (Guru SMAN 1 Timpeh)

Beberapa peristiwa fenomenal mengejutkan baru-baru ini muncul di berbagai media sosial, seperti pemukulan terhadap guru hingga berujung kematian, video siswa merokok massal di dalam kelas pada saat guru mengajar. Ada lagi kasus guru ditantang murid di Gresik, Jawa Timur.

Sungguh ironi, hal ini menunjukkan meningkatnya kasus kenakalan remaja yang muncul dewasa ini. Baik dari segi kuantitas mapun kualitas, dapat dijadikan sebagai indikator menurunnya etika, moral dan karakter anak bangsa.

Salah satu faktor penyebab utama adalah pengaruh globalisasi. Pengaruh ini dapat dilihat di media publik yang banyak memuat berita mengenai kenakalan remaja.  Seperti tawuran antar pelajar, narkoba, seks bebas, pesta miras, dan balapan liar.

Fenomena yang tidak kalah memprihatinkan dalam dunia pendidikan adalah terkikisnya nilai karakter kejujuran. Terbukti banyak kantin kejujuran di sekolah-sekolah tutup karena bangkrut. Contohnya sekolah penulis sendiri. Begitu juga budaya mencontek yang dilakukan oleh peserta didik sangat sulit untuk dihilangkan.

Kurang mengenanya pendidikan karakter menjadi penyebab utama permasalahan tersebut. Permasalahan inilah yang mendasari pemerintah saat ini sedang gencar menggalakkan penguatan pendidikan karakter.

Fakta-fakta tersebut juga menjadi dasar penyempurnaan kurikulum, selain faktor tantangan internal dan eksternal.
Fenomena ini, tentu saja, tidak dapat dilepaskan dari peran pendidikan, terutama pendidikan di sekolah.

Berkaitan dengan permasalahan tersebut, dewasa ini pemerintah menggalakkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) untuk mengatasi permasalahan yang ada. Permasalahan tersebut juga menjadi dasar penyempurnaan kurikulum.

Salah satu cara menanamkan pendidikan karakter melalui penekanan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam mata pelajaran matematika, yang dikenal dengan istilah High Order Thinking Skill (HOTS).

Seyogyanya, tidak hanya soalnya saja yang dibuat HOTS. Tapi menurut penulis, cara belajar juga harus dibuat HOTS, agar guru bisa menanamkan karakter secara tidak langsung kepada siswa. Seperti karakter gigih, tidak mudah menyerah, suka dengan tantangan baru dan semangat menerima perubahan-perubahan. Selanjutnya, kritis, cepat tanggap, kreatif, disiplin, dan mengaplikasikan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Apalagi pada zaman sekarang ini, jika siswa tidak disuguhkan cara belajar yang menantang maka guru akan kewalahan menghadapi siswa yang serba canggih.  Lebih dahulu memperoleh info dari berbagai sumber online.

Didalam pembelajaran khususnya pembelajaran matematika, diharapkan kemampuan peserta didik tidak hanya berhitung saja. Akan tetapi diharapkan peserta didik dapat menggunakan matematika dalam menyelesaikan permasalahan di kehidupan sehari-hari.

Matematika merupakan ilmu yang berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Oleh karena itu penyajian materi matematika dalam pembelajaran sering dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.  Dengan tujuan agar peserta didik mampu menemukan konsep dan mengembangkan kemampuan matematikanya, berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.

Peserta didik dikatakan mampu menyelesaikan suatu masalah apabila peserta didik tersebut mampu menelaah suatu permasalahan. Juga, mampu menggunakan pengetahuannya ke dalam situasi baru.

Kemampuan inilah yang kita dikenal sebagai High Order Thingking Skills (HOTS). HOTS merupakan kemampuan untuk menghubungkan, memanipulasi, dan mengubah pengetahuan serta pengalaman yang sudah dimiliki secara kritis dan kreatif dalam menentukan keputusan untuk menyelesaikan masalah pada situasi baru. Banyak karakter yang bisa ditanamkan melalui pembelajaran dengan berorientasi HOTS ini.

Dalam pembelajaran matematika misalnya, ketika guru memberikan cara belajar yang HOTS, seperti yang penulis uraikan diatas.  Juga dengan soal HOTS, siswa ditantang untuk memunculkan sikap tidak mudah menyerah.

Mungkin selama ini siswa tidak begitu tertarik dengan matematika mungkin karena model dan metode pembelajaran yang diberikan oleh guru relatif monoton.  Jika sudah diarahkan kepada cara belajar HOTS dan soal HOTS, maka mau tidak mau siswa akan merasa tertantang dan dengan sendirinya muncul karakter tidak mudah menyerah.

Selain itu karakter kritis juga akan muncul. Karena dengan soal HOTS maka siswa akan lebih ditantang untuk berpikir tingkat tinggi.  Sehingga bisa “memaksa” otaknya untuk menalar dengan lebih luas lagi.

jika ada soal yang belum bisa diberikan solusinya, maka secara otomatis akan muncul karakter kritis dalam diri siswa. Dengan sendirinya akan timbul pertanyaan demi pertanyaan untuk mencari solusi soal HOTS yang dimaksud.

Karakter lain yang muncul adalah cepat tanggap, karena dengan adanya soal HOTS, dan siswa merasa tertantang. Jika karakter tidak mudah menyerah dan kritis sudah muncul, maka dengan sendirinya siswa akan cepat tanggap dengan apapun permasalahan yang ditemuinya.

Begitu juga dengan karakter disiplin. Siswa akan berangsur-angsur menanamkan karakter disiplin. Karena jika satu masalah HOTS tidak ditemukan solusinya, lalu muncul sikap kritis dan tidak gampang menyerah, maka dengan sendirinya akan muncul karakter disiplin.

Meskipun memberdayakan HOTS peserta didik dalam pembelajaran Matematika di kelas bukanlah hal yang mudah. Sebab membawa implikasi terhadap penyusunan dan pengimplementasian rancangan pembelajarannya.

Namun demikian, dengan mencermati bagaimana keterkaitan yang erat antara hakikat pembelajaran Matematika dengan sejumlah teori mengenai HOTS, maka dapat ditarik sebuah benang merah bahwa perlu digagas sebuah model pembelajaran Matematika yang mampu memberdayakan HOTS peserta didik.

Namun, fakta menunjukan bahwa guru masih mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran matematika yang terintegrasi dengan karakter. Penyebabnya sangat variatif, diantaranya adalah lemahnya pengetahuan dan kemampuan untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika.

Guru juga sulit memilih metode pembelajaran dan bahan ajar yang sesuai dengan pengembangan karakter. Ditambah lagi dengan sulitnya melakukan penilaian karakter dalam pembelajaran matematika.

Oleh karenanya, diperlukan adanya inovasi untuk mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada karakter dan HOTS. Dalam kaitannya dengan karakter dan HOTS, jenis media yang dipilih adalah yang memungkinkan untuk menyajikan masalah dan memandu siswa menyelesaikan masalah tersebut.

Selain itu perlu dipertimbangkan jenis media yang dapat digunakan secara fleksibel dan berpotensi untuk mendukung terciptanya kegiatan positif siswa seperti kerjasama, tanggung jawab, dan kemandirian.

Pengembangan pembelajaran dengan HOTS berbasis PPK memberikan beberapa keuntungan bagi peserta didik.  Antara lain,  informasi yang dipelajari dan diproses melalui proses berpikir tingkat tinggi menguatkan ingatan terhadap informasi tersebut.

Dan lebih jelas dibandingkan dengan informasi yang diproses dengan LOTS (Low Order Thinking Skills), misalnya menghafal. Sebagai contoh menghafalkan rumus dengan menjelaskan penurunan rumus atau perbedaan antara mengingat definisi suatu kata baru dengan menginternalisasi strategi.

Dengan pembelajaran HOTS peserta didik tidak hanya menghafal tetapi juga memahami dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

High Order Thinking terjadi ketika peserta didik terlibat dengan apa yang mereka ketahui sedemikian rupa untuk mengubahnya. Artinya siswa mampu mengubah atau mengkreasi pengetahuan yang mereka ketahui dan menghasilkan sesuatu yang baru.

Melalui high order thinking peserta didik akan dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas dan berargumen dengan baik.  Mampu memecahkan masalah, mampu mengkonstruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas.  Kemampuan ini jelas memperlihatkan bagaimana peserta didik bernalar.

Sama halnya dengan literasi, kemampuan literasi matematika dan high order thinking skills tidak hanya terbatas pada kemampuan berhitung saja. Namun juga berupaya menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari guna menyelesaikan suatu permasalahan dan juga mengkomunikasikannya.

Dengan demikian maka dapat dilihat bagaimana proses berpikir matematisasi peserta didik.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Final MKC II, Para Finalis Bakal Adu Suporter

SPIRITSUMBAR.com – Turnamen kolosal terbesar di Ranah Minang telah mencapai puncaknya. Empat tim bakal bertarung ...