Beranda - Pariwisata - Destinasi - Jokowi dan Nagari Sejuta Rumah Gadang
Isa Kurniawan
Isa Kurniawan

Jokowi dan Nagari Sejuta Rumah Gadang

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Isa Kurniawan
Salah satu kebanggaan sebagai orang Minang adanya rumah gadang yang menjadi simbol kekerabatan. Rumah gadang adalah bagian dari identitas suku bangsa Minang.

Tapi saat ini kita cukup prihatin dengan semakin berkurangnya antusias orang Minang untuk membangun rumah tradisional itu, apakah sebagai tempat tinggal atau kegunaan lainnya. Termasuk di Kota Padang yang biasanya pembangunan kantor-kantor pemerintah dan swasta wajib bentuknya rumah gadang, sekarang sepertinya sudah tidak berlaku lagi.

Di daerah-daerah, dulu sekali memang banyak dibangun tempat tinggal berbentuk rumah gadang, tapi sekarang cenderung membangun rumah tembok yang minimalis, tidak berbentuk rumah gadang. Padahal rumah-rumah gadang yang dibangun dulu itu sekarang sudah mulai banyak yang lapuk, bahkan sudah ada yang diruntuhkan, rata dengan tanah.



Di daerah alasan tidak lagi membangun rumah gadang sebagai tempat tinggal karena biayanya yang mahal. Sementara kalau di Kota Padang, karena daerahnya rawan gempa dan terletak di pesisir pantai. Pembangunan kantor-kantor pemerintah dan swasta sekarang sekaligus berfungsi sebagai shelter, bangunan tinggi sebagai tempat penampungan saat gempa kuat terjadi untuk menghindari dari hantaman tsunami.

Kalau ini dibiarkan maka suatu saat nanti kita tidak akan lagi menemukan rumah gadang di daerah-daerah. Saya telah berkeliling Sumbar, dan mendapati keadaan dimana rumah gadang banyak yang sudah lapuk dan ditinggal penghuninya.

Sementara bangunan rumah gadang baru hampir tidak ada. Tapi keprihatinan ini mendapat jawaban dari Presiden Jokowi dengan adanya upaya revitalisasi rumah-rumah gadang yang tetdapat di “Nagari Saribu Rumah Gadang” di Kabupaten Solok Selatan.

Ceritanya Jokowi pernah mendaki Gunung Kerinci sewaktu masih menjadi mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) dan melewati Solok Selatan. Kekagumannya atas rumah gadang di Solok Selatan, setelah mendapatkan laporan sudah banyak yang lapuk, membuat Jokowi tersentuh untuk merevitalisasinya.

Mengingat pelestarian dan potensi wisatanya yang sangat menjanjikan ke depan. Kepedulian Jokowi ini patut diapresiasi oleh Masyarakat Minang, sebagai pemicu gerakan revitalisasi rumah-rumah gadang di daerah-daerah.

Sebenarnya apa dikhawatirkan saya dan Jokowi itu sudah lama ada pada diri seorang arsitektur Eko Alvarez (alm) dosen senior di Unversitas Bung Hatta (UBH), dimana dengan bekerjasama dengan sebuah yayasan yang peduli terhadap pelestarian rumah tradisonal, dilakukan lah revitalisasi beberapa rumah gadang di daerah Sumpu, Kabupaten Tanah Datar. Letaknya di tepian Danau Singkarak. Berkat jasa doktor Eko Alvarez, sekarang rumah gadang itu sudah kembali berdiri megah dan anggun di sana.



Ke depan, perlu diinventarisasi rumah-rumah gadang di daerah yang harus diperbaiki / direnovasi. Kemudian Pemprov Sumbar dan pemerintah kabupaten / kota bersinergi untuk menganggarkan pembiayaan revitalisasi rumah-rumah gadang itu di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Cukup dua atau tiga rumah gadang per daerah per tahun anggaran. Mudahan-mudahan dengan adanya gerakan ini marwah Minang sebagai sebuah suku bangsa tetap bersinar. Suatu saat akan ada julukan bagi Sumbar sebagai “Nagari Sajuta Rumah Gadang”.

Editor : Saribulih

Baca juga:

loading…


loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Peduli Lingkungan untuk Kemaslahatan

SPIRITSUMBAR.com – Untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk mencintai lingkungan dan memberikan edukasi bagi ...