Beranda - Pendidikan - Artikel - Jembatan Hati untuk Sekolah
Harnieti
Harnieti

Jembatan Hati untuk Sekolah

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Harnieti (Kepala SMPN 3 Kecamatan Lareh Sago Halaban)

Berbicara mengenai jembatan tentu kita akan teringat dengan penghubung antar jalan. Tanpa jembatan maka jalan tersebut sulit bahkan tidak bisa ditempuh sama sekali. Begitu besarnya peran sebuah jembatan demi kelancaran lalu lintas di jalan raya.

Namun jembatan yang dimaksud di sini adalah penghubung antara hati ke hati bagi setiap warga sekolah. Jembatan hati juga sangat penting dibangun agar terciptanya suasana yang kondusif di sekolah. Jembatan hati akan memberi pengaruh positif terhadap munculnya rasa saling menghargai, kerjasama yang baik, peduli satu sama lain, dan berbagai sikap positif lainnya. Jembatan hati terlahir dari hati. Segala yang terlahir dari hati maka akan mudah diterima oleh hati.

Setiap sekolah terdiri dari komponen yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi sekolah. Disamping itu juga ada komponen lain diantaranya komite sekolah, wali murid dan masyarakat sekitar sekolah. Namun dalam kesehariannya yang selalu terlibat aktif dalam menjalankan tugas di sekolah adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan tenaga adminstrasi sekolah.

Apabila komponen tersebut mampu bersinergis dengan baik, maka tentu saja akan sangat berdampak positif bagi pengembangan sekolah. Kemampuan memahami visi, misi dan tujuan sekolah sangat penting dimiliki oleh stakeholder sekolah tersebut. Disamping itu dibutuhkan kekompakan dan kerjasama yang baik.

Sering kita mendengar dan menyaksikan, baik melalui media sosial ataupun realita di lapangan, bahwa di suatu sekolah terjadi konflik ataupun persengketaan. Hal tersebut terjadi, baik antara guru dengan guru, guru dengan wakil kepala sekolah, bahkan antara guru dengan kepala sekolah. Parahnya lagi, jika konflik ini terjadi antara guru dengan siswa. Konflik tersebut justru terkadang muncul disebabkan hal-hal yang sepele.

Lebih miris lagi konflik tersebut terkadang melebar sampai ke pihak lain seperti Dinas Pendidikan bahkan pihak kepolisian. Sungguh sangat disayangkan karena lembaga sekolah semestinya harus mampu menjadi wahana pendidikan bagi siswa dalam segala hal.
Mengapa hal ini bisa terjadi?, tak lain penyebabnya karena tidak terbangunnya jembatan hati di sekolah tersebut. Apabila adanya jembatan hati yang terbangun dengan baik, maka hal-hal seperti tadi tidak akan terjadi.

Dalam membangun jembatan hati di sekolah sangat diperlukan peran dari seorang kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai pimpinan di suatu sekolah perlu memiliki kepedulian dalam hal ini.

Kepala sekolah yang baik, akan mampu memantau setiap gejala yang muncul di sekolah. Kepala sekolah sebaiknya memiliki buku pemantauan tentang setiap gejala yang terjadi. Apabila ditemukan adanya gejala yang tidak baik, maka seorang kepala sekolah tidak boleh melakukan pembiaran, melainkan harus melakukan pembinaan. Dalam pepatah Minangnya “ jan biakan api sampai ka singok” artinya setiap permasalahan yang terjadi di sekolah harus cepat diantisipasi supaya tidak semakin melebar.

Pembinaan yang dilakukan juga dilakukan secara bertahap, mulai dari secara lisan, tulisan maupun sampai teguran dan pemberian sanksi jika dibtuhkan sesuai ketentuan. Hal ini juga harus diadminstrasikan dengan baik.
Dalam melakukan pembinaan, kepala sekolah juga diharapkan mampu membangun jembatan hati dengan yang dibina. Sebab apabila caranya tepat, pasti hasilnya juga akan baik. Tetapi apabila cara yang dilakukan tidak tepat, bukannya menyelesaikan permasalahan, melainkan justru semakin memperkeruh keadaan.

Kepala sekolah hendaknya mampu mengajak dan mencontohkan bagaimana setiap perkataan dan perbuatan dari warga sekolah mampu menguatkan bagi sekolah. Jangan sampai terjadi hal yang sebaliknya, di mana setiap ucapan dan perbuatan warga sekolah justru melemahkan bagi sekolah.

Seorang kepala sekolah, selayaknya mampu mengajak warga sekolah untuk selalu berfikir positif, berkata yang positif dan berbuat yang positif. jika hal ini sudah terwujud maka akan mudah menggerakkan warga sekolah untuk menjalankan setiap program kegiatan di sekolah yang telah direncanakan.

Nah, dalam menciptakan kekompakan serta kerjasama yang baik ini dibutuhkan adanya rasa saling mendukung, memahami serta sikap positif lainnya. Hal tersebut akan tercipta apabila terbangunnya jembatan hati diantara warga sekolah. Jembatan hati adalah adanya saling keterhubungan antara satu hati dengan hati yang lainnya bagi setiap warga sekolah.

Dengan terbangunnya jembatan hati yang baik, maka muncul rasa kekeluargaan yang baik di sekolah. Jembatan hati yang baik akan menghilangkan jarak antara satu dengan yang lainnya. Sehingga juga akan mampu menghindari gesekan-gesekan yang bisa melemahkan bagi sekolah.
Artinya kepala sekolah tidak hanya mampu membangun sarana sekolah seperti pagar untuk membentengi sekolah dari ancaman dari luar. Tetapi juga mampu membangun jembatan hati di sekolah untuk membentengi sekolah dari ancaman yang berasal dari dalam. Sebab ancaman yang berasal dari dalam, justru terkadang lebih berbahaya dari pada yang berasal dari luar.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Teja Paku Alam

Teja Paku Alam Gantikan Awan Setho di Timnas Senior

SPIRITSUMBAR.com, Jakarta – Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy memutuskan memanggil kiper Semen Padang, Teja Paku ...