Beranda - Headline - Heboh Fenomena Likuefaksi, Ternyata Ini Penyebabnya
Fenomena Likuefaksi di Palu
Fenomena Likuefaksi di Palu

Heboh Fenomena Likuefaksi, Ternyata Ini Penyebabnya

Print Friendly, PDF & Email

Spiritsumbar.com – Tenggelamnya sebuah permukiman di Palu, pasca-gempa bermagnitudo 7,4 akhir September lalu menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat. Malahan, fenomena yang dikenal dengan istilah  likuefaksi menjadi perbincangan hangat bagi  masyarakat belakangan ini.

Berbagai spekulasi muncul sebagai penjelasan atas terjadinya bencana alam yang belum terlalu familiar di telinga masyarakat ini.

Ahli Geologi Institut Teknologi Bandung ( ITB), Imam Achmad Sadisun, sebagaimana dilansir laman Kompas, menjelaskan faktor yang menyebabkan tanah bergerak dan mengeluarkan material yang kemudian kita kenal dengan istilah likuefaksi.

Dia mengutip dari artikel di laman resmi ITB, Imam menjelaskan, fenomena likuefaksi merupakan perubahan karakter material padat (solid) menjadi seperti cairan (liquid) sebagai akibat dari adanya guncangan besar.

Baca juga : Umur Bumi Diprediksi 60 Tahun Lagi, Ini Dasarnya

Guncangan berkekuatan tinggi yang terjadi secara tiba-tiba di tanah dengan dominasi pasir yang sudah mengalami jenuh air, atau tidak lagi bisa menampung air.

Ini menyebabkan tekanan air pori naik, melebihi kekuatan gesekan tanah yang ada.  “Proses itulah yang menyebabkan likuefaksi terbentuk dan material pasir penyusun tanah menjadi seakan melayang di antara air,” kata Imam.

Apabila posisi tanah terletak di lahan miring, tanah dapat bergerak menuju bagian bawah karena tertarik gaya gravitasi. Pergerakan inilah yang menjadikan tanah seolah-olah terlihat “berjalan”, berpindah dari tempat semula ke tempat yang baru.

Pergerakan ini membawa serta segala benda dan bangunan yang ada di atasnya, misalnya rumah, pohon, tiang listrik, dan sebagainya. “Secara lebih spesifik, kejadian ini disebut sebagai aliran akibat likuefaksi atau flow liquefaction,” ujarnya.

Namun, apabila kekuatan tekanan air pori tidak melampaui kekuatan gesek tanah, efek dari likuefaksi hanya sebatas retakan-retakan yang memunculkan air dengan membawa material pasir. Likuefaksi ini terjadi di Lombok pasca-gempa kemarin, menyebabkan terjadinya retakan di permukaan dan sumur yang tiba-tiba terisi pasir. Efek ini disebut sebagai cyclic mobility.

Dapat diperhitungkan Imam menyebut, potensi likuefaksi dapat diidentifikasi bahkan memungkinkan untuk dihitung. Secara umum likuefaksi terjadi di wilayah rawan gempa dengan muka air tanah dangkal dan kondisi tanahnya kurang terkonsolodasi.

Pada umumnya, likuefaksi terjadi apabila terdapat gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 5 di kedalaman kategori dangkal. Material tanah yang terlikuifaksi berada di bawah muka air tanah dengan kedalaman sekitar 20 meter atau lebih, tergantung persebaran tanah di suatu wilayah.

Untuk meminimalisasi terjadinya likuifaksi dapat dilakukan dengan berbagai upaya rekayasa pengerasan atau pemadatan material tanah. Misalnya, dengan mencampurkan semen (soil mixing), injeksi semen (grouting), membuat pondasi dalam sampai tanah keras, dan sebagainya. “Namun kendalanya adalah dari biaya yang tinggi. Untuk rumah biasa seperti itu sulit, tapi untuk bangunan yang tinggi (upaya) itu harus,” kata Imam.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Peternak ayam unjuk rasa

Jagung Menggila, Peternak Ayam Unjuk Rasa

SPIRITSUMBAR.com – Tingginya harga jagung yang menembus angka Rp5.100/kg membuat peternak ayam petelur, di Indonesia ...