Beranda - Pendidikan - Artikel - Hati Mati Rasa

Hati Mati Rasa

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar)
Sebuah pemandangan aneh terlihat pada pagi hari menjelang siang di beberapa tempat yang saya lalui di bulan suci Ramadhan.

Ketika umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa, tampak beberapa orang yang lagi duduk-duduk berkumpul dipinggir jalan dengan sangat santainya secara vulgar merokok, minum bahkan memakan nasi yang baru dibuka dari bungkusnya di tempat-tempat umum yang tidak ditutupi tirai.

Kalaulah dilihat dari segi usia, pada umumnya mereka sudah dewasa malahan ada yang berusia lanjut. Rasanya sudah tidak pantas lagi mempertontonkan ketidakberpuasaanya di depan umum. Sebagai orang dewasa, seharusnya sudah merasa malu memberikan contoh yang tidak baik kepada generasi muda.

Dilihat dari segi badannyapun besar-besar, pekerjaan yang dilakukan rasanya tidaklah seberat pekerjaan kuli-kuli bangunan yang bekerja dengan peras keringat banting tulang di tengah teriknya panas matahari. Disini timbullah pertanyaan dalam akal sehat kita, sebenarnya apa sih yang sudah hilang pada zaman ini.

Bila kita lihat kilas balik sejarah pada zaman dahulu, orang merasa sangat malu ketika dirinya dilihat orang tidak berpuasa. Apalagi untuk kita di daerah kita Minang Kabau yang menganut falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.

Malu sekali rasanya makan dan minum di siang hari di tempat umum apalagi di dekat orang yang sedang berpuasa. Meskipun ada diantara mereka ada yang tidak berpuasa karena alasan sakit atau karena sudah lanjut usia, mereka akan makan dan minum di rumahnya atau di tempat-tempat yang tertutup tidak terlihat orang.

Direktur Al Wasath Institute Faozan Amar mengatakan, dalam hukum fikih, puasa memang diwajibkan kepada orang-orang yang telah memenuhi persyaratan, diantaranya muslim, berakal, mampu, menetap di suatu tempat, dan tidak memiliki penghalang. Apabila ada diantara kita yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut tentu boleh tidak berpuasa, namun hormati jualah saudara-saudara kita yang sedang menjalankan ibadah puasa sebagai tanda kita orang yang beragama dan orang yang beradat.

Dalam rangka menghormati orang yang berpuasa, pemerintah sangat gencar mengadakan razia terhadap rumah-rumah makan yang berjualan makanan dan minuman di siang hari. Kadangkala razia tersebut luput untuk tempat-tempat umum seperti diatas kendaraan umum, terminal, pasar dan lain sebagainya yang dengan santainya mempertontonkan kegiatan merokok, makan dan minum di dekat orang yang sedang berpuasa.

Tergelitik juga kita rasanya ketika membaca ada disebuah berita baik dimedia cetak maupun elektronik, hormatilah orang yang tidak berpuasa. Pada akun facebookpun ada yang berani menuliskan pada laman akunnya “kepada orang yang tidak berpuasa, hormaaaaaat grakkk”. Apakah karena zaman telah berubah dan musim sudah berganti, sehingga mengakibatnya terkikisnya nilai-nilai moral. Rasa malu dan rasa saling hormat- menghormati sudah mulai pudar. Dunia sudah terbalik.

Seharusnya, bagi yang tidak berpuasa alangkah lebih baiknya bisa menghormati dan memberi semangat kepada saudara-saudaranya yang sedang berpuasa. Bagi yang tidak berpuasa, janganlah sampai menggoda saudara kita yang sedang menjalankan ibadah puasa. Nantinya bagi yang tidak kuat imannya akan bisa membuat puasanya jadi batal.

Sebenarnya, bagi seseorang yang sedang berpuasa juga tidak keberatan jika kita makan, minum atau merokok di dekatnya, karena itu juga merupakan sebagai bagian ujian dari keimanan orang berpuasa dimana mereka harus bisa sabar dan mengendalikan diri.

Namun sebagai seorang manusia yang memiliki hati nurani, janganlah hal itu kita lakukan. Apakah hati nurani kita ini sudah mati rasa untuk itu, entahlah.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Kepala Sekolah Dalam SPMI

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar) Kepala sekolah merupakan pemegang kunci kesuksesan dalam sebuah ...