Beranda - Pendidikan - Artikel - Guru Sebagai Pilihan Profesi

Guru Sebagai Pilihan Profesi

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar)

Tugas guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2018 Tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah.

Untuk mewujudkan semua itu diperlukanlah sosok guru profesional yang memiliki sederetan kompetensi seperti kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.

Bila kita cermati lebih lanjut, untuk mewujudkan peserta didik yang berkualitas, pemerintah telah mengeluarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagaimana yang diamanatkan dalam Permendikbud Nomor 20 Tahun 2016, dmana setiap lulusan satuan pendidikan dasar dan menengah harus memiliki kompetensi pada tiga dimensi yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Gradasi untuk dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan antar jenjang pendidikan memperhatikan perkembangan psikologis anak, lingkup dan kedalaman, kesinambungan, fungsi satuan pendidikan serta lingkungan.

Dalam mengimplementasikan semua itu, seorang guru harus membuat perencanaan pembelajaran atau pembimbingan. Melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan, menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan, membimbing dan melatih peserta didik. Juga, melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru.

Guru yang menjadikan pekerjaannya sebagai pilihan pasti tidak akan sulit untuk mewujudkannya. Namun sebaliknya apabila profesi keguruannya tidak sebagai pilihan hidup, tentu akan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai guru hanya sekedar untuk melepaskan hutang saja.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang itu menjadi guru. Pertama menjadi guru karena terpaksa. Hal ini terjadi karena mungkin dia berasal dari keluarga guru. Lalu dia dipaksa untuk menjadi guru, padahal sebenarnya hatinya tidak ingin menjadi guru.

Kedua, menjadi guru karena dari pada. Dari pada tidak ada pekerjaan lain, dari pada sulit mencari pekerjaan, atau dari pada menganggur lebih baiklah menjadi guru.

Ketiga, menjadi guru karena kebetulan. Kebetulan pergi ke suatu tempat, kebetulan ada lowongan pekerjaan, dan kebetulan diterima, maka menjadi guru jugalah akhirnya.

Keempat, menjadi guru karena pilihan profesi. Melihat tugas guru amatlah mulia, bisa memberikan ilmu yang bermanfaat dan menjadikan orang memiliki sikap yang baik, memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, maka terketuklah pintu hatinya untuk menjadi seorang guru.

Dalam mengajar, seorang guru harus tahu terlebih dahulu siapa yang akan diajar, apa materi yang akan diajarkan, dengan apa dan bagaimana cara mengajarkannya sehingga bisa dipahami oleh peserta didik, serta punya target seberapa hasil yang ingin dicapai. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui, seorang peserta didik punya kapasitas terpasang, gaya belajar serta waktu yang berbeda untuk menyerap materi yang sama.

Guru yang menjadikan pekerjaannya sebagai pilihan profesilah yang akan dapat menjawab semua itu. Bukan guru yang menjadi guru disebabkan karena terpaksa, kebetulan, atau guru dari pada.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Khatam Bukan Berhenti Baca Al Quran

SPIRITSUMBAR.com – Membaca dan memahami Qur’an sangat perlu sekali Wakil Bupati Dharmasraya, H. Amrizal Dt ...