Beranda - Headline - Guru Halimah
Guru Halimah
Guru Halimah

Guru Halimah

Print Friendly, PDF & Email

Mereka membawa guru Halimah ke dalam sebuah “boutique” yang di dalamnya ada menjual baju, tas dan sepatu wanita. Guru Halimah bingung dan salah tingkah. “ Bu . . silakan Ibu pilih, saya sudah niat,”’ ucap Arman dengan suara yang sopan.

“Nggak…nggak… tidak usah !”, jawab Guru Halimah tidak menentu.

“Maaf Bu, kalau begitu biar isteri saya saja yang pilihkan,” kembali suara Arman merendah dengan sopan sekali.
Kali ini guru Halimah tidak menjawab, bukan pula menyatakan setuju tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.
“Tolong ambilkan yang tergantung sebelah kiri,” kata isteri Arman kepada pelayan toko.


Artikel Lainnya

loading…


Guru Halimah masih sempat melihat baju yang diturunkan. Warnanya merah bata dan ada motif hiijau di dalamnya.
“Ini bisa dibawa Ibu untuk pergi pesta atau acara-acara tertentu,” terdengar suara Ema kepada suaminya, walaupun jarak Guru Halimah dengan mereka cukup jauh.

Kalimat itu serasa menohok pikirannya. Guru Halimah sudah hampir setahun tidak ada membeli baju baru setelah lebaran tahun lalu. Untuk menghadiri undangan pesta, Guru Halimah sering memakai baju dinas. Kebetulan undangan pesta sudah banyak di hari sekolah bukan lagi di hari Minggu atau Sabtu. Beberapa lama terdengar lagi ucapan, “Tas yang warna hijau itu berapa.”

Guru Halimah masih sempat mencuri pandang kepada tas yang diminta Ema isteri Arman. Tas itu bagus sekali menurut Guru Halimah. Ada logam yang melingkari setengah badan tas. Juga ada mainan menjuntai di samping tas dengan inisial CH. “Berapa?” suara Ema bertanya lagi, antara terdengar dengan tidak.

“Dua juta Bu,” jawab pelayan toko.

Bagi Guru Halimah jawaban itu bagaikan petir serasa menyambar dirinya. Seumur-umur Guru Halimah tidak pernah membeli tas seharga itu. Dia menundukkan wajahnya ke tas yang ada di pangkuannya. Sudah lusuh, talinya mulai mengembang dan kulitnya sudah ada yang terkelupas. Dulu dibelinya dua ratus sepuluh ribu. Tiba-tiba pelayan toko bersuara di dekat Guru Halimah, “Kalau ukuran Ibu ini nomor tiga delapan.”  Guru Halimah terdongak melihat pelayan toko dan Ema sudah berada di dekatnya.

Halaman Berikutnya >>>

[ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ] [ 5 ] [ 6 ] [ 7 ]



 

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pilkada Serentak 2020 Tanpa Kampanye Akbar

  Spiritsumbar.com,Solok- Penyelenggaraan Pilkada serentak 2020 berbeda dengan Pikada sebelumnya, karena dilakukan ditengah pandemi Covid-19. Namun ...