Beranda - Pendidikan - Artikel - Guru di Era Disrupsi

Guru di Era Disrupsi

Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Feri Fren (Widyaswara LPMP Sumatera Barat)

Disrupsi yang dalam Bahasa Inggrisnya disruption adalah sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Clayton Chritensen sebagai kelanjutan berfikir “Harus berkompetisi, untuk bisa menang (for you to win, you’ve got to make somebody lose)” Michael Porter. Beradaptasi atau mati, itu kata lainnya.

Kata tersebut semakin hari semakin dirasakan, karena saat ini kita sudah berada di era itu. Dalam dunia bisnis dapat kita lihat banyak perusahaan yang pada mulanya sangat kuat sekali bahkan menguasai pasar internasional, tetapi, sekarang sudah mulai “redup” bahkan ada yang sudah gulung tikar. Era disrupsi merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, beralih ke dunia maya.

Mau menolak, tentu sudah bukan waktunya lagi, karena datangnya bak air bah. Lalu, bagaimana, kita harus mengikutinya seiring perubahan zaman. Apabila kita bandingkan dengan negara-negara maju, Indonesia sebenarnya masih ketinggalan jauh dalam masalah ini. Meskipun demikian, masalah disrupsi harus ditangani, apa pun bidangnya, termasuk dalam dunia pendidikan.

Bila kita perhatikan di media massa baik cetak maupun elektronik, ada kasus penolakan kehadiran sebuah perusahaan taksi di suatu daerah yang pernah ramai dibicarakan. Ada Gojek yang pernah mendapat pertentangan di daerah-daerah. Akhirnya sekarang bagaimana, tidak dapat dicegah lagi bahkan tumbuh subur bisnisnya di nusantara.

Demikian juga dengan diberlakukannya e-tol yang menggantikan tenaga manusia. Ada parkir online yang menggantikan petugas parkir. Gerai ATM sebagai pengganti pegawai bank, berkurangnya kartu ucapan selamat yang berwujud kertas dan digantikan dengan HP/Android. Ada pendaftaran online yang menggantikan petugas administrasi.

Tenaga manusia sudah mulai tergantikan oleh mesin atau robot. Perpustakaan harus menyediakan jurnal online (e-journal), pengembalian dan peminjaman secara otomatisasi (Ridwan Sanjaya, 2018:4). Semua itu sebagai dampak dari era disrupsi.

Inovasi yang dibutuhkan dalam disrupsi kebaruan-kebaruan atas “produk lama”. Dalam pendidikan pun, disrupsi harus dihadapi. Guru harus melek dengan teknologi. Kelas akan menjadi rombongan belajar yang terhimpun dalam “grup-grup” Whatsapp, karena itulah tuntutannya saat ini.

Dengan demikian guru akan lebih mudah menyampaikan materi melalui media online. Kelas online bias dilakukan melalui telecomference. Jarak bukanlah menjadi masalah saat ini, moda daring sudah dilakukan dalam Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB).

Siswa saat ini dengan sangat mudah bisa mencari materi pelajaran atau tugas yang diberikan melalui internet. Hal ini dikarenakan siswa sudah mulai terbiasa menggunakan internet, apalagi bagi siswa yang memiliki Hand Phone Android. Berbagai macam fiture ditawarkan, kesemuanya itu bisa mereka operasikan.

Beberapa waktu yang silam, untuk mencari sebuah artikel atau jurnal kita harus pergi ke perpustakaan atau toko buku. Kemudian, mencarinya sesuai tema yang dibutuhkan dengan memakan waktu yang sangat lama. Namun saat ini hal itu sangat gampang dilakukan. Disinilah, peran guru harus dioptimalkan, jangan sampai gurunya tidak melek teknologi.

Dengan kemampuan mempergunakan teknologi, seorang siswa yang disuruh mencari tugas atau membuat sebuah makalah. Mereka dengan mudah mencarinya di google dan mencetaknya. Mereka dengan gampang mengganti nama dan identitas saja. Kalau gurunya kurang tahu teknologi, tentu dia akan percaya dengan begitu saja bahkan akan merasa kagum. karena dia bukan guru di era disrupsi.

Untuk menjadi guru di era disrupsi, harus banyak membaca. Apakah itu membaca buku referensi, koran, majalah, jurnal, dan karya tulis ilmiah lainnya. Seorang guru jangan sampai minim informasi. Pengembangan diri guru disruption harus selalu di-update, jangan sampai terhenti.

Demikian juga dalam hal mengajar, penggunaan media infocus dengan menayangkan power poin sudah harus difamiliarkan oleh seorang guru. Seorang guru harus bisa membuat power point, mempergunakan word , exel, dan lain sebagainya.

Guru disrupsi, pasti bisa Microsoft office, tidak hanya sekadar berbicara di depan kelas saja, namun mampu mengelola kelas secara manual dan online. Ia  mampu meng-upload materi atau bahan ajar ke system online. Tidak hanya menyuruh siswanya untuk meng-upload-kan, tapi ia juga aktif dalam pembelajaran secara online melalui group-group diskusi.

Guru di era disrupsi setiap hari selalu ada hal yang baru untuk disampaikannya kepada siswa. Hal itu bias terjadi karena guru tersebut rajin membaca. Guru tersebut tak semata-mata mengajar bersumber dari buku guru dan buku siswa serta LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dibeli dari penerbit. Guru harus aktif menulis buku, modul dan bahan ajar bahkan membuat LKS untuk memenuhi kebutuhan mengajarnya. Materi-materi yang ia sampaikan lebih bisa diterima oleh siswa dengan situasi terkini, karena ia sudah menganalisis kebutuhan materi yang akan diajarkannya.

Guru disrupsi tidak asal mengajar saja di kelas. Ia akan mengajar dengan menyenangkan. Diantara kegiatan yang dilakukannya membuatkan peta pikiran, mengawali pembelajaran dengan cerita yang motivasi siswa sesuai tujuan pembelajarannya. Setiap kali mengajar selalu ada informasi-informasi baru yang disampaikannya, itulah guru di era disrupsi.

Jika seorang guru tidak mempersiapkan dirinya di era disrupsi, suatu saat mereka akan dieleminir oleh zaman. Pembelajaran yang diberikan hanya sekedar copypaste  dari buku. Bahkan bukupun hanya sekadar tumpukan koleksi, tanpa dibaca. Jurnal penelitian kependidikan dicari saat dibutuhkan.

Pelatihan dan Workshop dilakukan untuk mengumpulkan angka kredit semata tanpa memberikan nilai tambah untuk meningkatkan kompetensi.

Solusi era disrupsi bagi guru adalah dengan melakukan pengembangan diri secara berkelanjutan. Seorang guru harus mampu mempergunakan teknologi, mengajar dengan inovasi dan kreasi. Mengajar tidak lagi secara konvensional yang mengandalkan ceramah, menggunakan lembar kerja siswa, dan pemberian tugas. Kegiatan pembelajarannya dilakukan dengan inovasi, kreasi, penggunaan beraneka ragam model dan media pembelajaran. Disamping itu harus juga bisa mempergunakan informasi teknologi untuk pembelajaran. Begitulah peran seorang guru di era disrupsi.

 

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pembangunan Daerah (PPD) Peringkat I Kategori Perencanaan dan Pencapaian Tingkat Kabupaten

Tanah Datar Peringkat I PPD Tingkat Nasional

SPIRITSUMBAR.com – Sejarah besar ditorehkan Kabupaten Tanah Datar di awal bulan suci Ramadhan 1440 H. ...