Beranda - Pendidikan - Artikel - Gerakkan Pendidikan Inklusi

Gerakkan Pendidikan Inklusi

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Fitra Murni
Indonesia adalah Negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke. Indonesia yang luas ini juga dikenal dengan Negara yang memiliki suku, budaya, dan bahasa yang sangat banyak dan berbeda antara satu sama lainnya.

Di tengah perbedaan itu Indonesia adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dengan adanya semboyan Bhineka Tunggal Ika yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu.

Perbedaan yang menjadi satu kesatuan itu bisa terwujud dengan adanya jaminan bagi setiap warga Negara untuk memperoleh hak dan melaksanakan kewajibannya yang diatur di setiap butir pasal Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Sebagai salah satu contohnya pasal 31 yang berisi tentang pendidikan di Negara Indonesia. Pasal 31 UUD 1945 ini terdiri dari dari 5 ayat yaitu 1,2,3,4 dan 5.

Berikut ini adalah isi dari masing-masing ayat pasal 31 UUD 1945:
Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi, Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Pasal 31 ayat 2 UUD 1945 berbunyi, Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Pasal 31 ayat 3 UUD 1945 berbunyi, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Pasal 31 ayat 4 UUD 1945 berbunyi, Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggraran pendapatan dan belanja derah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Pasal 31 ayat 5 UUD 1945 berbunyi, Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Dari kelima ayat tersebut, terlihat jelaslah bahwa pasal 31 ayat 1 merupakan aturan yang sangat fundamental dalam memperoleh pendidikan. Negara mengatur bahwa dalam mendapatkan pendidikan selurah warga Indonesia diperlakukan sama, tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, yang kaya dengan yang miskin, yang cerdas dengan bodoh.  Bahkan yang sempurna fisiknya dengan yang berkebutuhan khusus yang lebih dikenal dengan disabilitas.
Memang benar adanya, Pendidikan merupakan salah satu pilar yang sangat significant (penting) diantara tiga yang lainnya: kesehatan, ekonomi dan keamanan.

Pendidikan merupakan ujung tombak keberhasilan sebuah Negara/Bangsa. Ini tidak dapat di pandang sebelah mata.
Oleh karena itu, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak dan beragam tingkat ekonominya menyikapi betapa pentingnya pendidikan untuk kemajuan masyarakatnya. Indonesia meletakan pondasi yang kuat untuk pendidikan. Pendidikan harus bisa menjangkau semua dini kehidupan di Negara ini. Ini bisa dilihat dengan adanya program pendidikan wajib 12 tahun atau yang lebih dikenal dengan Wajar dua belas tahun.

Kelangsungan pendidikan ini tidak hanya merupakan slogan yang didengungkan tetapi sudah direalisasikan dengan adanya anggaran 20% APBN (anggaran pendapatan belanja negara) untuk pendidikan.Kepedulian ini tidak hanya diberikan melalui penyaluran dana tetapi juga terhadap pelaksanaannya di lapangan. Ini bisa dilihat dengan banyak fasilitas-fasilitas layanan pendidikan yang dibuat seperti pendirian bangunan mulai dari pendidikan usia dini (PAUDNI), pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTSN), pendidikan menengah (SMA,SMK,MA), Perguruan Tinggi. Bahkan Pendidikan Inklusi (pendidikan anak berkebutuhan khusus).

Pertanyaannya adalah apakah yang telah dilakukan ini sudah menyentuh semua masyarakat di Negara ini? Jawabannya adalah sudah tetapi mungkin masih perlu ditingkatkan. Contohnya, apakah pendidikan untuk anak yang berkebutuhan khusus (ABK) sudah terlaksana dengan maksimal? Mungkin ini haruslah disikapi dengan seksama.

Pendidikan merupakan kebutuhan primer/pokok bagi setiap manusia. Tanpa pendidikan, kehidupan manusia akan hampa. Setiap individu yang ada di muka bumi harus berjuang dan bertarung untuk mendapatkannya, tidak ada pengecualian antara individu yang mempunyai fisik sempurna ataupun yang memiliki kekurangan fisik.

Pada dasarnya manusia merupakan anugrah terindah yang diciptakan Tuhan dengan istilah bijaknya manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan di alam semesta ini. Tidak ada perbedaannya karena Tuhan menganugrahkan pada setiap individu itu potensi yang sudah melekat pada dirinya masing-masing.

Kita sebagai makhluk ciptaanNya, tidak berhak untuk memandang remeh atau menghina orang yang menurut kita memiliki kekurangan baik itu fisik ataupun kecerdasaannya. Seperti halnya dalam pendidikan adanya istilah pendidikan anak berkebutuhan khusus atau yang disingkat dengan ABK.

Istilah anak berkebutuhan khusus atau anak KK menurut (Mega Iswari: 2008) ditujukan kepada anak yang menyandang kelainan sedemikian rupa sehingga akibat kelainan itu mereka mengalami hambatan dalam perkembangannya baik dalam segi fisik, mental, emosi, sosial, dan kepribadiannya, sehingga mereka memerlukan layanan khusus untuk dapat mencapai perkembangan yang optimal. Kelainan pada anak tersebut dapat meliputi kelainan fisik, kelainan mental, kelainan sosial, dan emosi.

Dalam pendidikan, anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang masih berhak untuk menimba pendidikan, mendapat perlakuan sama, penghargaan bahkan hak untuk hidup yang layak. Mereka haruslah diperlakukan seperti manusia lainnya. Tidak adanya perlakuan diskriminasi untuk mereka karena mereka hidup, berkembang dan tumbuh diantara kita.

Syukurlah, kekhawatiran akan kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ini segera mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah selaku penyelenggara Negara. Mereka diperhatikan langsung oleh pemerintah di bawah pengawasan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memfasilitasi mereka untuk mendapatkan Pendidikan Khusus yang dikenal dengan Pendidikan Luar Biasa atau yang lebih dikenal dengan singkatan PLB. Mereka diajar dan didik langsung oleh tenaga pendidik khusus yang sudah mendapatkan ilmu khusus pula di bangku kuliah mereka.

Mereka akan dengan mudah berhubungan dan paham tentang bagaimana perlakuan kepada anak berkebutuhan khusus sehingga bakat, minat dan kemampuan mereka bisa tergali.

Ini bisa kita lihat dengan adanya SDLB, SMPLB dan SMALB hamper disetiap kota/kabupaten yang ada di seluruh NKRI (dari Sabang sampai Merauke) ini. Tetapi pemerintah tidak hanya tinggal diam dengan permasalahan pendidikan anak berkebutuhan khusus ini.

Pemerintah berusaha keras untuk mewujudkan pendidikan yang lebih maksimal dan tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Pemerintah terutama kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI melakukan gebrakan besar yaitu dengan memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk bisa bersekolah di tempat yang sama dengan anak-anak regular yang ada di sekolah umum seperti SD, SMP, SMA yang ada di setiap kota/kabupaten.

Anak berkebutuhan khusus ini akan mudah masuk sekolah umum. Mereka tidak lagi merasa malu atau rendah diri dengan adanya label luar biasa (LB) dibelakang nama sekolah mereka. Mereka difasilitasi untuk menimba ilmu tetapi dengan satu syarat yaitu sekolah yang bisa menerima adalah sekolah yang sudah dilegalkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sekolah inklusi.Tidak semua sekolah umum bisa menerima anak berkebutuhan khusus karena untuk melakukan pendidikan inklusi, sekolah yang berhak hanyalah sekolah yang sudah ditunjuk dan di SK kan sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusi.

Dengan adanya sekolah inklusi, maka anak berkebutuhan khusus sudah mendapat perlakuan sama dengan anak-anak regular di sekolah umum. Sekarang ini, sudah banyak disaksikan anak berkebutuhan khusus berada di sekolah-sekolah sekolah umum.

Contohnya anak tuna netra yang bisanya mengecap pendidikan di sekolah Luar biasa, saat ini sudah ada di sekolah umum yang ada di kota/kabupaten tempat mereka tinggal. Tidak asing lagi pemandangan seperti ini. Mereka berada di tengah-tengah peserta didik yang secara fisik tidak memiliki kekurangan seperti mereka.

Bahkan mereka sudah diperlakukan sama sebagai manusia. Tidak ada pelecehan, hinaan bahkan perlakuan yang semena-mena terhadap mereka. Pendidik dan peserta didik di sekolah anak berkebutuhan khusus sudah bisa menerima keberadaan mereka bahkan tidak ada perbedaan perlakuan terhadap mereka. Mereka bukan orang asing lagi atau orang yang berbeda di kelas yang mereka tempati.

Kebijakan yang dilakukan oleh kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini sangatlah mulia karena diyakini bahwa anak berkebutuhan khusus akan lebih tergali kemampuan kalau mereka berada di sekolah umum. Banyak kita saksikan sekarang ini, ada anak tuna netra di sekolah umum yang bisa mengikuti olimpiade matematika bahkan ikut ajang lomba seni bergengsi.

Usaha kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini haruslah kita acungkan jempol dan berikan apresiasi yang setinggi-tingginya karena sudah berjuang untuk menegakan keadilan di dunia pendidikan. Anak berkebutuhan khusus adalah juga generasi penerus bangsa. Mereka juga berhak mendapatkan hak yang sama. Sebagaimana yang sudah diatur oleh Pemerintah.

Pemerintah sangat peduli terhadap pendidikan seperti yang termaktub dalam undang-undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan peserta didik yng cakap, kreatif dan mandiri. Hal ini dituangkan dalam Bab IV Pasal 19 tahun 2005, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat minat dan perkembangan peserta didik.

Nah, dari uraian tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa Tujuan Pendidikan Nasional bukan hanya untuk peserta didik yang memiliki fisik sempurna tetapi untuk seluruh peserta didik yang ada di Negara ini. Dengan kata lain, peserta didik yang berkebutuhan khusus juga memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Tapi sayangnya, di lapangan khususnya sekolah umum tujuan mulia dari Kementrian Pendidikan Kebudayaan ini agak mendapatkan sedikit hambatan. Sekolah umum yang bisa menampung anak berkebutuhan khusus ini belum mendapatkan pendidikan khusus pula dalam pelayanan untuk mereka. Sekolah-sekolah umum yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi belum bisa berbuat banyak dikarenakan ilmu untuk menghadapi anak berkebutuhan khusus ini masih minim.
Pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah yang seharusnya maksimal terkendala karena potensi anak berkebutuhan khusus ini belum bisa tergali secara optimal karena keterbatasan tenaga pendidik khusus buat mereka. Contohnya, tenaga pendidik di sekolah umum, hamper tidak ada yang menguasai huruf broile yang sangat dibutuhkan oleh anak tuna netra. Bahkan, masih jarang tenaga pendidik di sekolah umum yang mengerti dan paham bagaimana berkomunikasi dengan anak tuna rungu.

Ini adalah hal yang sangat butuh usaha dan kerja keras, baik dari sekolah inklusi atau pemerintah dalam menyikapi hal ini. Pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah umum, tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh karena itu, sangatlah dirasa perlu adanya Gebrakan pendidikan Inklusi agar tujuan mulia dari kementrian Pendidikan dan Kebudayaan terhadap anak berkebutuhan khusus ini bisa diwujudkan.
Gebrakan Pendidikan inklusi ini adalah sebagai berikut:
Pemerintah selaku pemegang kebijakan harus menyiapkan tenaga pendidik terlatih untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah inklusi. Ini bisa diambil langsung dari lulusan pendidikan luar biasa (PLB) atau memberi pelatihan khusus kepada tenaga pendidik yang sudah ada di sekolah-sekolah inklusi tersebut.

Ketersediaan sarana dan prasarana untuk anak berkebutuhan khusus, contohnya belum adanya jalur khusus untuk anak tuna netra bahkan pengguna kursi roda. Sekolah-sekolah inklusi sudah memiliki jalur/jalan khusus yang akan dilalui oleh anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebuti. Hal ini tidaklah sepele karena menyangkut keselamatan mereka selama berada di sekolah.

Tenaga pendidik di sekolah-sekolah inklusi haruslah bisa menerima dan memahami karakteristik anak berkebutuhan khusus. Mereka haruslah bisa mengajar dan mendidik anak berkebutuhan khusus dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, sebaiknya ada program bimbingan tenaga pendidik di sekolah-sekolah inklusi. Memperlakukan anak biasa, tidak sama dengan anak berkebutuhan khusus. Contohnya saja, anak autis akan berbeda dengan anak biasa/umum. Anak autis biasanya hidup dialamnya sendiri, kita tidak bisa memaksakan aturan-aturan secara cepat dan tegas kepada mereka, butuh kesabaran dan ketenangan.

Orang tua dan Tenaga pendidik haruslah bekerja sama dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus. Contohnya, orang tua tidak melepaskan saja pendidikan anak berkebutuhan khusus ini kepada pihak sekolah. Orang tua juga haruslah pro aktif membantu kelancaran PBM anak. Contohnya, orang tua bisa menanyakan tentang perkembangan PBM anaknya di sekolah tanpa adanya surat undangan dari sekolah. Sebaliknya, tenaga pendidik juga bisa bertanya langsung kepada orang tua tentang sikap dan prilaku anaknya karena orang tua lah yang tahu banyak tentang hal tersebut.

Bimbingan dan kompetensi yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus adalah kompetensi kecakapan hidup (life skill) karena ini sangat berguna bagi masa depan mereka. Anak berkebutuhan khusus ini hendaknya harus mampu memiliki keahlian khusus yang sangat bermanfaat untuk menyongsong kehidupan mereka di masa datang. Mereka tidak canggung lagi menghadapi kehidupan yang semakin berkembang dari waktu ke waktu. Mereka tidak boleh lagi pasrah dengan keadaan dan keterbatasan yang mereka miliki tapi sebaliknya dengan segala keterbatasan yang mereka miliki ini, mereka mampu bersaing.

Anak berkebutuhan khusus khususnya anak dengan kecerdasan istemewa yang juga tergolong anak inklusi seharusnya mendapatkan perhatian lebih dimana mereka memiliki kecerdasaan di atas rata-rata. Sebaiknya tenaga pendidik yang mengajar mereka juga tenaga pendidik yang memiliki kemampuan lebih pula sehingga potensi yang mereka miliki lebih tergali dan terasah yang berdampak terhadap prestasi mereka.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Nasrul Abit Lepas Calon Haji Kloter Padang

Spiritsumbar.com, Padang – Mendapat rahmat Allah pergi haji saat ini butuh waktu, memdaftar hari ini ...