Beranda - Headline - Drama Tari Balega di Tanah Manang ke Festival Sabah Malaysia

Drama Tari Balega di Tanah Manang ke Festival Sabah Malaysia

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com – Drama tari “Balega di Tanah Manang” tampil di Auditorium Bustanul Arifin Adam, Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Jumat malam (2/11/2018) pekan lalu. Pagelaran ini selain diwarnai muatan kekayaan seni budaya lokal dan kuatnya peran perempuan di Minang, juga penegasan atas adat Minang bersandar Al Quran.

Penegasan itu terkristal dengan adanya pembacaan Al Quran oleh seorang penari perempuan pakai mukena sebelum MC membacakan sinopsis. Pembacaan Al Quran – sebagai ibu dari ilmu pengetahuan dengan kebenaran absolut itu – tentu sekaligus mengingatkan; berkesenian jangan sampai melalaikan kewajiban kepada sang khalik yang jadi tujuan akhir hidup.

Tari “Balega Di Tanah Manang” dalam sinopsis adalah visual sosial budaya di Minang dengan paham matrilineal. Kultur ini memengaruhi idiologi dan praktik hidup keseharian perempuannya. Dan potret kaum laki-lakinya merantau yang kelak akan kembali ke kampung, kerumah, di tempat jejak kaki ibu selalu balega “menanamkan surga” buat anak cucu.

Dalam tari ini, suguhan dimulai dari sorotan lighting ke sesosok perempuan dengan pakaian khas Minang (baju kurung hitam, kodek batik dan tikuluak-tanduak di kepala) beraktivitas di dapur (di sudut pentas). Di sebelahnya seorang pria berbaju guntiang cino, celana pintalun panjang dan deta di kepala tampak mendampingi.

Terus, perempuan ini bergerak ke tengah, yang kemudian membaur dengan 4 penari perempuan lain dengan kostum sama yang baru masuk ke pentas. Selanjutnya dari mereka muncullah banyak gerak tari baru yang inovatif dengan komposisi yang juga kreatif hinga pageralan ini usai dengan aplaus oleh audiens.

Gerak, seperti terungkap kemudian pada sesi diskusi dengan sang koreografer, Susasrita Loravianti, doktor tari jebolan UGM Yogya itu, atraksi gerak pada tari Balega Di Tanah Manang diinspirasi dari silek (silat) Lasi, silek Sungaipua, silek Tuo dan silek Kumango. Dan itu didahului oleh kegiatan penelitian tim sendiri.

Antara lain warna gerak yang kerap muncul di tari ini, sang penari banyak menampilkan gerak mengelak/gelek, nyaris nihil menyerang. Pola ini sepertinya hedak melukiskan filosofi perempuan Minang; bajalan bak siganjua lalai, dari pado maju suruik nan labiah, samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo.

Yang juga menarik, dalam tari ini hadir inovasi properti keranjang dari bambu. Dan itu terlihat menunjang pengembangan warna gerak tari. Sebab, sesekali keranjang jadi tempat duduk dengan gerak tari lebih banyak pada tangan, tubuh dan kepala. Pada kali lain terlihat dijinjing, disandang di punggung, dan jadi media penyimpan selendang indah mereka.

Sementara pemakaian properti gelang tembaga pada pergelangan tangan penari, meski bukan hal baru. Tapi pada karya Lora, dosen tari yang belakangan Ketua Program Pasca Sarjana ISI Padang Panjang, kumpulan gelang itu jadi menarik. Karena lewat gerakan irama tangan tertentu, gelang-gelang ini melahirkan irama yang juga menarik.

Itulah sebagian besar sisi-sisi karya drama tari Balega Di Tanah Manang. Tari ini, seperti disebut oleh Lora usai pagelaran itu, akan tampil pada Festival Koreografi Antar Bangsa (FESKOR) 2018 di Sabah, Malaysia. Dari Indonesia ada dua group yang terpilih ke event festival dunia itu, satu lagi dari Jakarta.

Group Lora sendiri yang bertolak ke Sabah pada 5 November 2018 lalu itu beranggotakan 12 orang. Mereka terdiri Dr. Susas Rita Loravianti, SSn, MSn; Komposer M.Halim SSen, MSn; Dramaturgi Wendy.HS, SSn, MA; Pimpro Emri SSn, MSn; Stage Manager Miftha; Perfomer terdiri Syafrini, Leoni, Ryana, Syilvia, Virda, M. Hario dan Layla.

Seperti kebanyakan karya tari Lora sebelumnya, drama tari Balega Di Tanah Manang pada malam itu banyak menilai sukses. Termasuk oleh Dr. Erlinda, doktor tari lainnya di ISI Padang Panjang. Berikut, Asnimar, koreogarfer dan mantan dosen Lora sendiri bahkan berharap Lora segera meraih gelar profesor tari.

Meski begitu, karya tari sebagai bagian dari ilmu sosial – yang kebenarannya relatif itu –tari Balega di tanah minang juga banyak dikritisi pada sesi diskusi. Dr. Irwan (dosen musik) mempertanyakan klimaks dari pertunjukan itu. Asnimar, juga memberi sedikit kritikan, sebaiknya di tari ini juga ada menyerang, bukan hanya mengelak.(yetti harni).

 

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pemain Timnas U-16, Sutan Diego Armando Ondriano Zico. (foto pssi)

Sutan Zico Bakal Hadir di Opening Ceremony Minangkabau Cup 2018

SPIRITSUMBAR.com – Opening Ceremony Minangkabau Cup II tahun 2018 bakal tampil dalam suasana heboh dan ...