Beranda - Pendidikan - Artikel - Cengkeh Mentawai Nasibmu Kini

Cengkeh Mentawai Nasibmu Kini

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaiswara LPMP Sumbar)

Sambil menunggu kelopak mata turun menutupi bola mata ditengah dinginnya angin malam di bumi sikerei tua pejat Kabupaten Kepulauan Mentawai, penulis mencoba berdialog dengan beberapa warga masyarakat yang berasal dari berbagai daerah yang berada di kepulauan mentawai Seperti dari pulau Sipora, Sikakap, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Kebetulan saat itu penulis sedang melakukan tugas lain ke pulau tersebut.

Dari cerita-cerita yang didengar, sekitar 40 tahun yang silam tumbuhan cengkeh sangat subur tumbuhnya di Kepulauan Mentawai, sehingga pada saat itu hasil dari penjualan cengkeh dapat mendongkrak ekonomi masyarakat. Termasuk untuk menyekolahkan anaknya ke luar pulau Mentawai, seperti ke Kota Padang dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tanggal 25 Oktober 2010 gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter mengguncang Kepulauan Mentawai, diiringi dengan tsunami. Daerah yang terparah di bagian pantai barat utara dan selatan. Saat itu banyak terjadi korban jiwa, kerugian harta benda, binatang ternak dan tanaman pertanian.
Saat itu air naik ke darat setinggi lebih kurang 12 meter, ada yang mencapai pinggang pulau, seperti pulau sibegau di daerah Malakopa Kecamatan Pagai Selatan. Pada saat itu air laut merendam tumbuh-tumbuhan termasuk pohon cengkeh yang tumbuh subur saat itu di sana dan beberapa tempat lainnya di Kepulauan Mentawai.

Setelah kejadian Tsunami tersebut tumbuhan mulai banyak yang mati, sementara tumbuhan cengkeh masih tetap bertahan. Hasil panen cengkehpun masih stabil bahkan semakin subur tumbuh termasuk tumbuhan lain untuk beberapa waktu.

Namun sekitar 2 tahun kemudian, hasil panen tumbuhan cengkeh mulai merosot dari tahun ke tahun. Batang yang semulanya tumbuh dengan subur secara berangsur-angsur mulai diserang oleh hama dan penyakit. Daun cengkeh mulai berguguran satu persatu dan lama-kelamaan habis mengakibatkan cengkeh tersebut mati total.

Setelah batang cengkeh tersebut mati dan ditebang, ditemukan hama seperti lundi atau ulat sagu yang kepalanya keras badannya lunak sebesar pipet sepanjang lebih kurang 3 centi meter.

Anehnya, apabila batang cengkeh tersebut dilihat dari luar, tidak ditemukan lubang sedikitpun untuk hama tersebut masuk, batang cengkeh masih kelihatan mulus. Selain itu ada juga hama yang menggerek dari luar batang mengakibatkan secara perlahan-lahan keluar air yang berwarna kekuning-kuningan. Akibatnya hasil panen cengkeh selalu menurun dari tahun ketahun.

Masyarakat tidak mengerti dan tidak memahami apa penyebab dan solusi untuk mengatasi hama tersebut. Mudah-mudahan ada pihak terkait yang bisa membantu untuk menyelesaikan permasalahan itu, sehingga nasib tumbuhan cengkeh di Kepulauan Mentawai bisa di selamatkan. Semoga.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pemain Timnas Indonesia U-19 di ajang Piala Asia (Foto PSSI)

Kontra UEA, Indra Sjafri : Kemenangan Adalah Harga Mati

SPIRITSUMBAR.com – Tim Nasional Indonesia U-19 siap tempur demi meraih kemenangan atas Uni Emirat Arab ...