Beranda - Headline - Caleg Muka Baru, Perang Baliho pun Terjadi
Salah satu baliho Caleg DPRD Solok Selatan
Salah satu baliho Caleg DPRD Solok Selatan

Caleg Muka Baru, Perang Baliho pun Terjadi

Print Friendly, PDF & Email

SPIRISUMBAR.com – Tidak kurang sebanyak 319 orang calon legislative di Solok Selatan dari 16 partai yang ada, 90 persen diantaranya adalah muka baru. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan.

Pada umumnya mereka tamatan SLTA, sesuai dengan persyaratan seorang calon pendidikan minimal. Bahkan ada diantara mereka yang berpendidikan SLTA melalui jalur Paket A dan Paket B, sudah barang tentu kualitasnya tidak sama dengan mereka yang berpendidikan SLTA yang bukan paket A dan paket B.

Sementara latar belakang pekerjaan dan profesi mereka, ada mantan pejabat, mantan guru, mantan walinagari, petani, wirausaha, ormas Islam. Tak terkecuali juga mantan preman yang belum berpengalaman bidang politik, kecuali pengurus partai yang mencalonkan diri kembali setelah tidak terpilih pada Pileg 2014 silam.

Anehnya lagi satu keluarga beda partai, seperti istri Bupati Solok Selatan, Bupati kader Gerindra, sementara istrinya Susriati mencalonkan diri melalui Partai Nasdem untuk calon DPR RI, sedangkan anaknya Multazam untuk DPRD Solok Selatan.

Lantas, masyarakat pun mempertanyakan, apa tujuan mereka ramai- ramai dan berpacu untuk mencalonkan diri baik calon dari partai yang sudah besar dan terkenal selama ini maupun partai baru yang belum banyak diketahui kiprahnya selama ini.

Beberapa orang tokoh masyarakat menilai, caleg yang belum berpengalaman dibidang politik ingin mencalonkan diri karena ingin alih professi. Bahkan salah seorang tokoh masyarakat lebih ekstrim menilai, karena ingin mendapatkan gaji yang besar disebabkan sudah jenuh dengan pekerjaan dan professi sebelumnya yang tidak mendapatkan pengehasilan yang lumayan, kata Buchari Dt. R.Nan Baso belum lama ini.

“Namun menurut penilaian tokoh masyarakat ini mereka yang belum berpengalaman bidang politik dan tidak memiliki finansial yang cukup, sudah dapat dipastikan mereka tidak akan duduk, tapi terduduk,” katanya.

Sebab berpengelaman kepada beberapa kali pemilu legislative di Solok Selatan sebelumnya, mereka yang menang itu justru orang yang mampu bermain politik uang dan menghalalkan segala cara, seperti yang dikenal dengan “serangan fajar” apalagi masyarakat Solok Selatan pada umumnya tidak memilih tokoh, tapi lebih cenderung memilih uang, katanya.

Sementara untuk mengisi kegiatan kampanye yang cukup lama itu, para caleg dinilai perang baliho, buktinya hampir disetiap persimpangan jalan terpasang baliho caleg dari berbagai parpol, termasuk pekarangan rumah warga, di emperan toko dan tempat strategis lainnya, sehingga menghambat pemandangan berlalu lintas .

Bahkan pemasangan alat peraga kampanye tersebut ada yang melanggar aturan. Masih ada para caleg yang memasang alat peraga kampanye pada falitas umum, pohon kayu, dekat rumah ibadah dan perkantoran pemerintah, namun tidak ada tanda – tanda akan ditertibkan oleh Bawaslu dan Pol PP setempat.

Salah satu baliho di pangkalan ojek Pakan Selasa, pada pemilu sebelumnya pangkalan ojek ini dianggap fasilitas umum, sehingga baliho salah seorang caleg dibongkar Pol PP.

Lantas bagaimana sekarang, apakah Bawaslu dan Pol PP berani membongkar baliho tersebut?, Tanya masyarakat lainnya. Selain itu ada lagi baliho salah seorang caleg yang dipasang dipersimpangan jalan Talago Pakan Selasa, sehingga menutup pemandangan lalu lintas.

Salah seorang komisioner KPU Solok Selatan Wilson ketika dihubungi Koran ini via telfon genggamnya Jumat (7/12/2018) mengaku, bahwa caleg pada pileg kali ini memang banyak muka baru dan mencalonkan diri di partai baru dan belum berpengalaman dibidang politik, katanya.

Sementara ketua Bawaslu Drs. Anshar ketika dihibungi via telfon genggamnya untuk konfirmasi terkait penertiban alat peraga kampanye tersebut, ternyata HP nya tidak aktif. (aj)

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Mahyeldi

Mahyeldi Antara Ekor Gajah atau Kepala Semut

Oleh: Isa Kurniawan (Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar/Kapas) Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah merupakan satu dari sekian ...