Beranda - Pendidikan - Artikel - Bersama Membangun Nilai Karakter
Feri Fren
Feri Fren

Bersama Membangun Nilai Karakter

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Feri Fren (Widyaswara LPMP Sumatera Barat)

Sebagai mana yang kita ketahui, kurikulum 2013 berorientasi pada penguatan karakter siswa yang telah diperkuat oleh Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Dengan demikian guru dituntut untuk melakukan penguatan karakter siswa dengan menginternalisasikan nilai-nilai utama PPK seperti religiusitas, nasionalisme, mandiri, gotong-royang dan integritas dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Ada tiga strategi implementasi PPK, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat.

Implementasi Kurikulum 2013 menjadi bagian integral dalam penguatan pendidikan karakter.

Selain itu, untuk membangun generasi emas Indonesia, maka perlu dipersiapkan siswa yang memiliki keterampilan Abad 21 yaitu kualitas karakter, literasi dasar, berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving skills), bekerjasama (collaboration skills), kemampuan untuk berkreativitas (creativities skills), dan kemampuan untuk berkomunikasi (commnication skills).

Saat ini, penguatan pendidikan karakter menjadi semakin mendesak untuk diprioritaskan, karena berbagai persoalan yang mengancam keutuhan dan masa depan bangsa.  Seperti maraknya tindakan intoleransi dan kekerasan atas nama agama yang mengancam kebhinekaan dan keutuhan bangsa, munculnya perilaku kekerasan, kejahatan seksual, perkelahian antar siswa, pergaulan bebas, narkoba merupakan hal yang harus kita perhatikan secara bersama-sama.

Pembelajaran adalah suatu hal dirancang oleh guru secara sadar untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pembelajaran diwujudkan dalam interaksi belajar-mengajar yang dinamis dan diarahkan kepada pencapaian tujuan terjadinya perubahan perilaku dan pribadi siswa yang optimal.

Perubahan yang terjadi pada siswa itu ditampilkan dalam karakter. Sebagai perilaku yang dilandasi nilai-nilai kehidupan yang sangat luhur.

Dalam setiap proses pembelajaran melibatkan mata pelajaran tertentu atau tema yang sedang dilaksanakan, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, serta pengelolaan kelas. Dalam rangkaian penyelenggaraan proses belajar mengajar di kelas guru memiliki kesempatan yang leluasa untuk mengembangkan karakter siswa.

Guru dapat memilih bagian dari mata pelajarannya atau tema pelajaran yang diajarkannya untuk diintegrasikan dengan pengembangan karakter siswa. Metode belajar yang dipilihpun dapat menjadi media pengembangan nilai-nilai karakter. Ketika mengelola kelas guru berkesempatan untuk mengembangkan karakter melalui tindakan dan tutur katanya selama proses pembelajaran berlangsung.

Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah akan memotret berbagai macam bentuk pembiasaan, model tata kelola sekolah, termasuk di dalamnya pengembangan peraturan dan regulasi yang mendukungnya. Proses pembudayaan menjadi sangat penting dalam penguatan pendidikan karakter karena dapat memberikan atau membangun nilai-nilai luhur kepada siswa.

Membangun budaya sekolah yang baik dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di sekolah. Sebagai contoh, kegiatan yang dapat dikembangkan dalam membangun budaya sekolah adalah pertama, pembiasaan dalam kegiatan literasi.

Kedua, kegiatan ekstrakurikuler yang mengintegrasikan nilai-nilai utama PPK. Ketiga, menetapkan dan mengevaluasi tata tertib atau peraturan sekolah.

Budaya sekolah yang baik dapat mengembangkan iklim pembelajaran yang kompetitif dan kolaboratif, yang diperlukan sekolah dalam menetapkan atau memperkuat pandangan sekolah oleh masyarakat.

Strategi membangun budaya sekolah dalam internalisasi nilai-nilai utama PPK dapat dilakukan melalui kegiatan rutin, kegiatan keteladanan, dan kegiatan terprogram. Kegiatan-kegiatan tersebut di antaranya adalah gerakan literasi (membaca buku non pelajaran 15 menit sebelum pembelajaran dimulai), serta berbagai macam kegiatan esktrakurikuler lainnya.

Keberhasilan pendidikan karakter bergantung juga pada kemitraan yang sinergis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pondasi pendidikan karakter sebagaimana yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara diletakkan oleh keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama.

Namun demikian, lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi tingkat keberhasilannya. Kepedulian menjadi kata kunci. Sudah saatnyalah untuk melakukan penguatan pendidikan karakter, secara bersama-sama melaksanakannya.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Kemenkomaritim Setujui Operasi Teluk Tapang

SPIRITSUMBAR – Rencana pembukaan jalan di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan rencana pengoperasian pelabuhan Teluk Tapang ...