Beranda - Pendidikan - Artikel - Bermain Api, Mencari Sensasi
Riyon
Riyon

Bermain Api, Mencari Sensasi

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Riyon.

Kebebasan informasi menyebabkan  media sosial (Medsos), seperti facebook, WA, instagram dan lainnya semakin  lepas kendali. Menorehkan ujaran kebencian (hoax), bak kuda yang lepas dari pelananya. Ataukah mungkin ini dikarenakan  ada kaitannya dengan tahun politik?.Ah entahlah!

Hal ini terlihat dengan  banyak ditemukan upaya saling jegal menjegal, jatuh –menjatuhkan, fitnah-memfitnah di medsos. Seperti, ini hal yang paling tepat, untuk merintis jalan menjadi pahlawan kesiangan. Kalau tujuannya baik itu toh tidak masalah, tetapi sudah berita bohong, tidak ada etika kebenarannya bahkan tidak cukup bukti.

Misalkan, seseorang pejabat atau kepala daerah diduga melakukan korupsi, lantas momen dimuat di medsos. Padahal dampaknya sangat luar biasa. Kalau tidak terbukti jelas sang penjabat sudah menjadi korban keganasan hoax. Kalau tidak terbukti, namanya terlanjur tercemar di medsos , sementara tak pernah berbuat  korupsi , tentu menjadi beban baik sang pejabat tersebut maupun keluarganya.

Konspirasi saling jegal menjegal, tak mungkin terjadi. Pasti, dibaliknya ada aktor intelektual yang menggorengnya, dan itupun terkoordiasi dengan rapi.Siapa yang akan dijadikan tumbal dalam  anggota dari group konspirasi tersebut, pasti terbesit didalamnya siapa yang akan dikorbankan.

Kalau memang pejabat itu terbukti korupsi dengan data bukti yang autentik punya data yang valid dugaan  korupsi tersebut, silahkan laporkan ke Tipikor atau langsung ke KPK. Bukan cuma nampang di media online dengan setumpuk berkas bukti arahnya diviralkan.

Masalah bukti pihak aparat hukum juga tidak segegabah dan sembrono menjerat kasus dugaan korupsi pejabat pemerintah menjadi tersangka. Ada proses kok,  kecuali OTT. Sedangkan dengan berkas yang setumpuk yang katanya bukti itu juga masih bisa dibatalkan dengan kata kurang cukup bukti.

Seperti halnya dalam suatu perkara ranah hukum ketika seseorang diduga korupsi dan diproses oleh Tipikor, lalu diserahkan P 21 nya ke Jaksa Tipikor, kalau tidak lengkap juga dikembalikan, karena persyaratannya bukti tidak lengkap harus dilengkapi buktinya. Ini salah satu contoh.

Jadi jangan sembarangan membuat berita bohong/hoax, memfitnah orang tak punya bukti autentik. Dalam UU Informasi dan Transaksi  Elektronik No.19 Tahu 2016, perilaku di Media Sosial Yang Dapat Dijerat Hukum yakni, Pasal 27,  Kesusilaan, Perjudian, Penghinaan, Pemerasan, hukumannya maksimal 6 tahun penjara denda Rp1 miliar. Dan saya ingatkan “Jangan bermain api,terbakar nanti”.

Pasal 28.UU.ITE-Berita Bohong-(HOAX) Ujaran Kebencian- maksimal 6 tahun penjara denda Rp 1 miliar.          Pasal 29 UU  ITE : Pengancaman,  maksimal 4 tahun penjara denda Rp 750 juta.

Sedangkan dalam Pasal 30, UU ITE :  Akses Illegal maksimum 6 tahun penjara denda Rp600 juta,  Pencurian Data Elektronik ,  maksimal 7 tahun penjara denda Rp700 juta  Peretas System  Data Elektronik – maksimal 8 tahun penjara denda Rp 800 juta.

Itulah sangsinya secara hukum, jadi jangan sembrono dan gegabah , ceroboh, emosional, demi kepentingan sesaat. Menyebarkan berita kebohongan atau memfitnah seseorang lewat medsos atau instalgram. Seperti isu yang berkembang tentang ada dugaan Bupati Sijunjung korupsi yang dimuat oleh  M. Rafig  dari BAPAN di media online dan sudah dibantah oleh Kadis Kominfo Kab. Sijunjung Rizal Efendi,SE . Itu berita hoax di media online yang digoreng pihak M. Rafig tampaknya tetap ngotot bupati Sijunjung korupsi. Kalau tidak terbukti ayo sama sama kita lihat, siapa yang akan terjerat ranah hukum dengan UU ITE.

Saya masih ingat suatu pepatah yang sangat menarik, siapapun orangnya penyebar hoax  dalam ranah hukum “Kukejar lari, kutangkap dikau”.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Apresiasi untuk Sumbar, Raih KASN 2018

SPIRITSUMBAR.com – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menerima Anugrah Komisi Aparatur Sipil Negara (KSAN) Tahun 2018 ...