Beranda - Foto - Beberapa Sekolah di Pessel, Rancak di Labuah
Seorang pelajar menggunakan kerangka meja dalam proses pembelajaran pada salah satu SMP di Pessel - foto: Palimo/Spirit Sumbar
Seorang pelajar menggunakan kerangka meja dalam proses pembelajaran pada salah satu SMP di Pessel - foto: Palimo/Spirit Sumbar

Beberapa Sekolah di Pessel, Rancak di Labuah

Print Friendly, PDF & Email

Spirit Sumbar – Bangku dan meja masih zaman ketumba, Patah lapuk, bahkan meja bolong kerap kali menjadi keluhan siswa. Kondisi itu, pastinya tidak memberikan kenyamanan lagi bagi peserta didik untuk mengikuti proses belajar dan menagajar disekolah.

Itulah gambaran beberapa sekolah tingkat dasar di Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. Yang masih perlu diperhatikan oleh dinas terkait demi mencapai hasil pendidikan secara kualitas dan kuantitas.

Berdasarkan pantauan di lapangan, di Batang Kapas ada dua sekolah saat ini berbagai kelengkapan mobiliernya butuh sentuhan peremajaan. Artinya, peralatan seperti meja dan kursi perlu diperbaharui. Sebab, meja yang bolong, dengan kursi yang patah, ditambah pula tanpa ada tempat untuk menyandarkan punggung peserta didik.

Tentu konsentrasi belajar dapat menggangunya sewaktu menuntut ilmu. Sehingga, dalam kontinitas tersebut, target untuk meningkatkan kualitas SDM (sumber daya manusia) bisa menurun atas kondisi yang uncomfort (tidak nyaman).

Yetti Elvina, Kepala SDN 22 Batang Kapas, menyebut sekolah yang dipimpinnya saat ini umpama “rancak dilua buruak didalam” (di luar kelihatan bagus tapi didalam memiliki kondisi jelek). Karena terangnya, mobiler disekolah itu sudah seringkali diperbaiki tapi tidak bertahan lama.

“Bangku serta kursi yang patah-patah itu, sudah sering kami perbaiki, namun tidak bertahan lama. Mejapun kami masih menggunakan meja bantuan belanda puluhan tahun lalu. Sekarang kondisinya sudah tidak bagus lagi” sebut Yetti Elvina, di ruang kantornya, Kamis, (25/2/2016).

Tambahnya, apabila menggunakan dana BOS dalam hal segala perbaikan itu, jumlah dana tidak akan mencukupi sebab, dana tersebut banyak terkuras untuk pemakaian kebutuhan sekolah yang lebih penting dan utama.

Kondisi yang samapun juga terjadi di SDN 15 Batang Kapas. Khusus untuk sekolah yang satu ini, lokasinya berada di daerah pedalaman. Jarang sekali sekolah dikunjungi. Selain jumah muridnya yang sedikit, sekolah itu juga tidak memiliki pustaka dan ruang kepala.

Mirza Dehar, selaku pengendali sekolah itu, juga telah pernah mengajukan proposal ke lingkungan Dinas Pendidikan Pessel, namun hingga kini masih menunggu konfirmasi dan tinjauan tim terkait apakah tahun sekarang lembaga pendidikan itu bisa diberikan bantuan.

Begitupun SDN 22 yang dipimpin Yetti Elvina, ia juga telah mengantarkan serangkaian proposal terkait kondisi sekolah yang berada dalam kondisi kurang memadai. Berharap kedepan segera ditanggapi supaya tercipta suasana kondusif dan aman dalam melaksanakan PBM.

NIKO

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Donny Moenek : Pemekaran Harus Untuk Kesejahteraan Masyarakat

SpiritSumbar.com, Jakarta – Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dr. Drs. Reydonnyzar Moenek, M.Devt.M yang akrab disapa Donny ...