Beranda - Pendidikan - Artikel - Antara Guru dan Perlindungan

Antara Guru dan Perlindungan

Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Tensiswarni ( SDN.07 Kampung Jawa Kota Solok)

Guru merupakan pribadi yang dewasa dan contoh teladan yang baik. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, itu ungkapan yang sering kita dengar. Apa saja tindak-tanduk guru, mulai dari berpakaian, berjalan bahkan ucapannyapun akan dijadikan panutan oleh peserta didiknya.

Sampai saat ini, guru telah mendidik dan mengajar peserta didiknya dengan berbagai macam metode dan strategi pembelajaran dalam proses pembelajaran. Semua itu dilakukan agar peserta didik dapat memahami pengetahuan dan keterampilan baru yang berguna sebagai bekal kehidupannya kelak.

Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik dapat mengubah perilaku. Disamping itu juga harus dapat mengendalikan diri dari perbuatan- perbuatan yang menyimpang, apakah itu norma agama, hukum, sosial serta budaya.

Keinginan tersebut sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tugas pokok dan fungsi guru adalah mendidik, mengajar, melatih, membimbing dan mengevaluasi peserta didik serta memberikan tindak lanjut. Hal ini sesuai dengan Undang- undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen disebutkan bahwa guru, secara khusus adalah pendidik profesional dengan tugas untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih , menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Berdasarkan defenisi diatas tugas profesional seorang guru tidaklah ringan. Guru dituntut untuk terus senatiasa meningkatkan profesionalismenya dengan baik. Tantangan yang dihadapi seorang guru semakin berat dan kompleks di era globalisasi sekarang.

Guru dituntut untuk menyelesaikan banyak administrasi sebagai bukti tertulis apa yang direncanakan guru dalam proses belajar mengajar. Administrasi yang wajib seperti membuat kalender pendidikan, program semester, program tahunan, silabus, KKM (Kriteria Ketuntansan Minimal), RPP ( Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), daftar penilaian, program remedial, program pengayaan, buku portofolio keadaan siswa, buku kasus siswa, daftar kelas, buku tamu kelas, buku keuangan, buku kegiatan harian guru, memeriksa tugas harian dan penilaian harian yang secara jeli semua dikerjakan guru ditambah lagi dengan administrasi ektrakurikuler seperti program pramuka siaga dan penggalang, program drumband, program olimpiade dan program kesenian, program sekolah adiwiyata, program sekolah bermutu dan banyak lagi yang harus diselesaikan oleh seorang guru.

Sebagai guru yang profesional semua dikerjakan dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas karena tidak dapat dipungkiri itu merupakan tugas pokok dan fungsi guru. Sekian banyak tugas guru yang harus diselesaikan namun tidak meninggalkan tugas untuk mengajar dan mendidik peserta didik, tugas guru yang dalam membentuk kepribadian peserta didik tidaklah semudah mengerjakan administrasi sekolah.

Akhir-akhir ini tugas guru semakin banyak menjadi perhatian dan sorotan, sering kita melihat dan mendengar di media elektronik, media cetak, maupun media sosial tentang diskriminasi terhadap guru ataupun berita guru yang dilaporkan kepada pihak kepolisian oleh wali murid dengan alasan melakukan tindakan kriminal berupa kekerasan dan melanggar Hak Azazi Manusia (HAM).
Dalam menegakkan disiplin dan aturan sekolah tentulah diadakan sanksi yang sifatnya mendidik, kerena tanpa ada sanksi yang mendidik tentu saja perbuatan peserta didik susah dikendalikan. Peserta didik akan mengganggap hal yang biasa kalau melakukan pelanggaran.

Contoh kegiatan mematuhi aturan sekolah adalah mematuhi kelengkapan atribut sekolah, tidak terlambat datang kesekolah, tidak membuat tugas yang diberikan guru, melaksanakan kegiatan tambahan seperti sholat berjamaah, tahfidz Al Qur’an, kegiatan pramuka, kegiatan drumband dan olimpiade dan lain sebagainya.

Bagi peserta didik yang tidak mau mengikuti kegiatan tersebut tentulah diberi sanksi seperti membawa pupuk kandang, membuat tugasdi perpustakaan, memilih sampah di lingkungan sekolah, atau membersihkan mussalla, menyiram bunga yang ada dilingkungan

Sebenarnya sanksi yang diberikan sekolah diawal tahun pelajaran sudah disampaikan terlebih dahulu kepada wali murid, dan wali murid menerima serta setuju dengan aturan sekolah, setelah ada pelanggaran dan aturan ditegakkan baru wali murid tidak terima dan komplain terhadap guru.

Anaknya tidak mau diperlakukan seperti itu dirumah saja anaknya tidak ada diperlakukan sperti itu. Tidak ada tugas seberat yang diberikan sekolah dan dianggap itu sudah menyalahi aturan dan melanggar HAM.

Kemudian dalam melaksanakan kegiatan ektrakurikuler drumband misalnya, peserta didik yang terpilih melaksanakan latihan dilapangan terbuka, tentulah peserta didik meraskan panas, gerah, letih begitupun guru pembimbing, Semuanya merasakan bagaimana susahnya mencapai sebuah keberhasilan, peserta didik terlihat aman-aman saja dan tetap semangat mengikuti latihan.

Sebaliknya orantua atau wali murid komplai lagi. Mereka mengatakan anaknya tidak terbiasa berpanas-panasan, anaknya letih sampai dirumah, anaknya terkapar saja tidur, semua komplain disampaikan kepada guru, tudingan kepada guru dan kepala sekolah dilontarkan oleh wali murid terlalu ambisi dalam kegiatan, guru dan kepala sekolah ingin mencari sebuah nama dan sebuah penghargaan.

Tudingan seperti itu masih diterima dan guru masih berlapang dada, memang menjalankan sebuah profesi pasti ada tantangan dan resikonya. Guru pembimbing dan pelatih mengadakan latihan dilapangan tentulah punya tujuan agar peserta didik lebih tangkas dan tidak cepat menyerah dalam keadaan apapun, namun wali muridpun masih mengatakan guru telah melanggar HAM.

Di sekolah gurupun mendidik peserta didik agar selalu saling membantu dengan sesama. Pendidikan sosial ini nanti akan dibawa pada kehidupan bermasyarakat, seperti kata pepatah minang “ dek ketek taraja-raja, lah mudo tabao-bao, dikala tuo lah tabiaso” artinya diwaktu kecil kita ajarkan, diwaktu muda terbawakan, setelah tua menjadi kebiasaan,

Kehidupan sosial disekolah seperti ketika melihat teman tidak ada alat tulis, siapa yang punya lebih agar meminjamkan temannya kata guru., Melihat teman yang tidak membawa perlengkapan alat tulis, yang lain meminjamkan. Teman sakit agar kita besuk dan memberi semangat agar cepat sembuh, pendidikan sosial seperti ini nanti juga akan dibawakan ke tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Untuk melihat teman yang sakit tentulah dikelas ada uang kas, dimana murid beriyur Rp. 1.000 perminggu yang disimpan dan dikelola oleh bendahara kelas, namun itu semua masih juga ada tudingan kepada guru bahwa guru melakukan pungutan liar ( PUNGLI) kepada peserta didik, yang ujung-ujungnya nanti guru berurusan dengan polisi karena telah melakukan pungutan liar.

Dari permasalahan yang telah dikemukakan tugas pokok dan fungsi guru untuk mendidik , mengajar , membimbing, mengarahkan, melatih , menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah pada undang-undang nomor 14, sudah tidak bisa berjalan dengan semestinya.

Keamanan dan kenyamanan guru dalam menjalankan tugas profesinya tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada singkronisasi antara guru dan perlindungan. Semoga.

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Bagindo M Leter Rindukan Sosok Donny Moenek

SPIRITSUMBAR.com, Padang – Walau hanya beberapa bulan menjadi Penjabat Gubernur Sumbar, namun Reydonnyzar Moenek telah ...