Beranda - Headline - AFACI Korea Selatan dan Balitbangtan Solok Kembangkan Instore Dryer
Peserta workshop foto bersama peneliti dari AFACI, Dr. Lee Jung Soo (Foto Eri)
Peserta workshop foto bersama peneliti dari AFACI, Dr. Lee Jung Soo (Foto Eri)

AFACI Korea Selatan dan Balitbangtan Solok Kembangkan Instore Dryer

Print Friendly, PDF & Email

SPIRITSUMBAR.com – Untuk meningkatkan mutu dan mengurangi tingkat kehilangan hasil, Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative (AFACI) Korea Selatan bersama BB Pascapanen menggelar workshop tentang penanganan pasca panen bawang merah termasuk teknologi pengeringan (Instore Dryer) bawang merah,di Alahanpanjang, Kabupaten Solok,Senin (12/11/2018).

Dihadapan peneliti BB Pascapanen, penyuluh pertanian, kelompok tani bawang yang ada di Kabupaten Solok dan 40 petani bawang merah Alahanpanjang, peneliti dari AFACI, Dr. Lee Jung So mengatakan, Permasalahan utama penanganan pascapanen bawang merah di Indonesia adalah produknya yang mudah rusak serta penanganan pascapanen yang masih perlu diperbaiki.

“Titik kritis dari penanganan pascapanen bawang merah ini adalah pada tahap pelayuan (curing),”ujar Lee Jung Soo.

Dikatakannya, di daerah Brebes dan Enrekang,setelah bawang dipanen, petani biasanya akan mulai melakukan proses pelayuan yang dilakukan di lahan-lahan dekat pertanaman. Sedangkan petani di Nganjuk dan Alahanpanjang akan langsung membawa bawang yang telah dipanen ketempat pelayuan yang posisinya di selasar-selasar rumah.

Proses pelayuan ini dibantu oleh sinar mata hari, sehingga lama waktu pelayuan hingga bawang merah dianggap aman untuk disimpan (kadar air sekitar 80%) memerlukan waktu yang berbeda-beda tergantung cuaca.

Masalah pelayuan ini,katanya, menjadi sangat penting ketika panen bawang dilakukan pada musim penghujan atau di daerah dengan musim penghujan yang panjang seperti Alahan Panjang. Dengan hari hujan lebih dari 300 hari maka proses pelayuan bawang merah memerlukan waktu lebih dari 10 hari.

Dengan teknologi ID ternyata mampu mengurangi terjadinya resiko kerusakan bawang merah akibat proses pelayuan yang terlalu lama, seperti umbi bawang membusuk, tumbuhnya tunas dan tumbuhnya akar pada umbi bawang.

Kabupaten Solok khususnya Alahan Panjang yang merupakan salah satu sentra produksi bawang merah di Indonesia, dan penghasil uatama bawang merah di Sumatera saat ini sudah memiliki 1 bangunan ID percontohan serta 5 replikasinya. Setelah melakukan beberapa kali percobaan, ternyata pelayuan bawang merah dengan ID mampu mengurangi waktu pelayuan menjadi 4-5 hari saja.

“Berdasarkan kenyataan ini, pihak AFACI juga berharap model Instore Dryer ini nantinya dapat diimplementasikan di negara Asia atau Afrika untuk komoditas pertanian lainnya seperti bawang putih dan bawang bombai.

Sementara itu Direktur Asia Postharvest Center, Dr. Kim Ji Gang mengatakan, Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative (AFACI) mupakan program yang digagas oleh Pemerintah Korea Selatan dalam upaya membantu Negara Negara sedang berkembang untuk mengimplementasikan teknologi pengolahan pangan dan pertanian, dalam upaya peningkatan produksi pertanian yang berwawasan lingkungan.

Proyek yang sudah digagas sejak 2013 ini sudah banyak membantu petani di 14 Negara di Asia khususnya Asia Selatan dan Asia Tengah, termasuk Indonesia. Dalam implementasi program kegiatan AFACI di Indonesia, pihak Rural Development Administration (RDA) Korea menggandeng Balitbangtan. Khusus untuk kegiatan pasca panen, AFACI yang diwakili oleh Asian Postharvest Center bekerjasama dengan BB Pascapanen.

Sejak tahun 2013,sudah banyak inovasi yang didiseminasikan kepada para petani dalam upaya penanganan pasca panen yang baik untuk menekan kehilangan hasil, sekaligus meningkatkan daya saing produk.

Berbagai macam kajian terhadap komoditas strategis telah dilakukan mulai dari tomat, mangga dan cabai, sedangkan 3 tahun terakhir, kajian yang dilakukan adalah tentang pascapanen bawang merah.

“Bukan tanpa alasan, komoditas ini dipilih karena karena merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia. Bawang merah sering dituuduh sebagai salah satu komoditas pertanian yang sering menyumbang terjadinya inflasi di Indonesia. Selain itu bawang merah adalah salah satu produk yang selalu dibutuhkan oleh hampir seluruh rumah tangga Indonesia. Konsumsi penduduk Indonesia perkapita mencapai 2.77 kg/kapita/ tahun,”kata Kim Ji Gang

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok,Ir. Admaizon mengharapkan agar keberadaan Instore Dryer ini dapat dimanfaatkanoleh para petani bawang merah semaksimal mungkin, karena dengan keberadaan beberapa ID di Alahan Panjang ini, petani bawang merah di Alahan Panjang dapat melakukan proses pelayuan bawangnya setiap waktu, tidak lagi terkendala oleh hujan yang terjadi hampir setiap hari.

“Dengan waktu pelayuan yang lebih singkat, kualitas bawang akan menjadi lebih baik, losses berkurang dan harga bawang menjadi lebih tinggi dan tentu sja petani bawang lebih makmur,”ujar Admaizon. (eri)

loading...

Tentang Saribulih

mm
Seorang praktisi pers yang juga bergerak dibidang pendidikan. Menulis dan berorganisasi merupakan hal yang mutlak baginya. Prinsipnya, seorang guru harus jadi penulis, karena dengan menulislah cakrawala dan kemampuan akan terus terasah. Organisasi juga suatu kebutuhan, karena bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran

Baca Juga

Pemain Timnas U-16, Sutan Diego Armando Ondriano Zico. (foto pssi)

Sutan Zico Bakal Hadir di Opening Ceremony Minangkabau Cup 2018

SPIRITSUMBAR.com – Opening Ceremony Minangkabau Cup II tahun 2018 bakal tampil dalam suasana heboh dan ...